Lakon Sunyi di Bawah Kabut Conggeang: Kala Hujan Menguji Iman dan Dagangan di Hari Pertama Ramadan

Oleh: Teguh Safary

Hari pertama Ramadhan di wilayah Conggeang, Sumedang, biasanya meledak dengan keriuhan warga yang berburu takjil di sepanjang jalan. Namun, awal bulan suci tahun ini menyuguhkan pemandangan yang kontras.

Bacaan Lainnya

Alam seolah punya skenario sendiri; bukan hiruk-pikuk yang hadir, melainkan dekapan kabut tebal dan rintik hujan yang tak kunjung reda sejak petang menyapa.

Pusat keramaian seperti Alun-Alun dan Pasar Conggeang yang biasanya tumpah ruah oleh warga, kini tampak lengang.

Hujan sedang yang turun konsisten memaksa masyarakat untuk tetap bertahan di dalam rumah. Fenomena ini menciptakan suasana “berbuka dalam keheningan” bagi sebagian besar keluarga.

Meski hawa sejuk membantu para pencari pahala beradaptasi dengan rasa haus di hari pertama, kabut tebal yang menyelimuti jalur berkelok Conggeang menjadi tantangan tersendiri bagi para pengendara yang harus tetap beraktivitas di luar rumah.

Keteguhan Hati di Balik Lapak Takjil. Ujian sesungguhnya dirasakan oleh para pejuang ekonomi di seputaran Alun-Alun.

Para pedagang takjil yang telah menyiapkan dagangan terbaik mereka sejak siang, harus rela berhadapan dengan sepinya pembeli. Aroma gorengan dan manisnya kolak seolah menguap begitu saja tertutup dinginnya cuaca.

Meski sesekali terdengar keluh kesah karena dagangan tak kunjung laku, ada keteguhan yang luar biasa terpancar dari wajah mereka.

Para pedagang ini tetap khusyuk menjalankan ibadah puasa dan berbuka dengan apa adanya di balik tenda lapak masing-masing. Di tengah dingin yang menusuk, mereka tetap menggantungkan syukur, berharap langit esok hari akan lebih bersahabat dan membawa rezeki yang tertunda.

Suasana syahdu berlanjut hingga malam hari. Masjid-masjid yang biasanya meluap hingga ke teras pada malam-malam awal Tarawih, kali ini terlihat lebih longgar.

Suara hujan yang tak mau berhenti seolah menjadi penyaring niat bagi para jamaah.

Bagi mereka yang tetap melangkah ke baitullah, suara rintik di atap masjid menjadi pengiring doa yang paling setia.

Sementara bagi yang terhalang cuaca, ruang tamu rumah berubah menjadi mushola kecil tempat kehangatan keluarga menyatu dalam ibadah.

Ramadhan tahun ini di Conggeang mungkin tidak dimulai dengan kemeriahan fisik, namun dimulai dengan sebuah pelajaran tentang penerimaan.

Di balik kabut yang pekat, ada iman yang tetap hangat dan doa-doa yang tetap melangit dari setiap sudut rumah warga.**

Pos terkait