JOMBANG, KABARPEMUDA.id — Perhelatan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, diwarnai eskalasi ketegangan tinggi pada Minggu (30/8). Rangkaian Sidang Pleno permusyawaratan tertinggi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut diwarnai aksi saling dorong hingga pengepungan ruang sidang oleh ratusan kader dan simpatisan.
Berdasarkan dinamika di lokasi, ketegangan fisik pecah ketika massa berusaha menerobos barikade pengamanan di area pintu masuk utama GSG. Sambil menggemakan protes melalui pengeras suara, massa terlibat aksi saling dorong dengan panitia dan petugas keamanan gabungan. Pengepungan yang meluas ini memaksa jalannya persidangan terhenti seketika, serta menyebabkan sejumlah pengurus, panitia, dan peserta muktamar (muktamirin) sempat tertahan di dalam gedung.
Dugaan Pemicu Kericuhan
Pemicu utama gejolak di arena muktamar berakar dari ketidakpuasan peserta terhadap regulasi tata tertib (tatib) pemilihan pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Isu krusial mencuat setelah muncul kabar terganjalnya langkah KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) dalam bursa pencalonan Ketua Umum PBNU.
Langkah Gus Yusuf tersandung oleh pasal mengenai masa iddah politik ketentuan yang mengatur jeda waktu minimal bagi figur yang memiliki keterikatan atau jabatan di partai politik sebelum dapat maju dalam pencalonan kepemimpinan PBNU. Terganjalnya syarat administratif ini memicu reaksi keras dari para pendukung yang menganggap aturan tersebut membatasi ruang partisipasi kandidat.
Aparat keamanan gabungan kini memperketat barikade dan penjagaan di sekitar kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum guna mengantisipasi potensi kericuhan susulan, sekaligus menjaga agar proses permusyawaratan dapat dilanjutkan kembali secara kondusif.***
(Berita ini dikutip dari unggahan video media Okezone)
