KABARPEMUDA.id- Minggu ( 19/7) Pelataran bersejarah Gedung Negara Sumedang mendadak semarak dan sarat khidmat. Di bawah naungan atmosfer historis pusat pemerintahan Sumedang tempo dulu, Komunitas Asep Asep (KAA) sukses menggelar perayaan hari jadi (Milangkala) yang ke-10. Acara ini menjadi momentum istimewa dengan hadirnya restu adat dan apresiasi mendalam dari pihak Keraton Sumedang Larang.
Hadir memberikan orasi budaya, Radya Anom Keraton Sumedang Larang, H. R. Luky Djohari Soemawilaga, menyampaikan narasi penuh motivasi yang membakar semangat ratusan “Asep” yang hadir. Dalam pandangannya, eksistensi Komunitas Asep Asep selama satu dekade terakhir merupakan wujud nyata dari keluhuran budi dan kasih sayang Sunda, sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh leluhur Sumedang, Pangeran Sugih.
“Atas nama keraton, kami mengapresiasi dan terus mendorong kiprah Komunitas Asep Asep yang terbukti berbobot. Ini bukan sekadar paguyuban nama, melainkan wadah berkumpulnya manusia-manusia berkualitas,” ungkap Radya Anom Luky di hadapan para Asep
Lebih lanjut, Radya Anom Luky memuji konsistensi komunitas ini dalam menjaga keseimbangan hidup. Menurutnya, anggota KAA adalah representasi ideal masyarakat Sunda modern yang nincak dina amparan (berpijak pada aturan), karena mampu menyelaraskan ketaatan spiritual dan kecintaan pada adat.
“Komunitas ini diisi oleh orang-orang yang mengenal ayat sekaligus uyut. Mereka tidak hanya taat dalam beragama, tetapi juga teguh memegang teguh nilai budaya dan menghormati sejarah leluhur,” tambahnya dengan nada bangga.
Pemilihan pelataran Gedung Negara sebagai pusat perayaan juga dinilai sarat makna. Berada di lingkungan yang dikelilingi nilai-nilai sejarah emas Sumedang Larang, perayaan ini diharapkan mampu menyerap energi positif masa lalu untuk diwujudkan dalam aksi nyata di masa kini. Pihak keraton secara khusus mendoakan agar KAA terus melahirkan program-program kemanusiaan dan sosial yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat (balarea).
Di akhir narasinya, Radya Anom Luky mengupas tuntas filosofi luhur di balik nama yang mereka sandang. Nama ‘Asep’ bukan sekadar identitas diri, melainkan sebuah doa dan warisan nilai Kasumedangan. Nama tersebut mencerminkan sosok yang tampan perilakunya, berwibawa, ksatria, namun tetap rendah hati dan penuh welas asih.
Milangkala ke-10 Komunitas Asep Asep ini pun ditutup dengan doa bersama dan komitmen untuk terus merawat persaudaraan, menjaga budaya Sunda, serta menjadi garda terdepan dalam menebar kemaslahatan bagi bangsa.*(Guh)*

