KABARPEMUDA.id – Belakangan ini, harga beras naik dari hari ke hari hingga tercatat rekor harga tertinggi.
Apakah hal ini terjadi semata hanya karena efek dari El Nino? Ataukah ada faktor lain yang mempengaruhinya?
Fenomena kenaikan harga beras memicu kekhawatiran besar di kalangan masyarakat, terutama golongan menengah ke bawah terhadap kebutuhan dan ketersediaan pangan.
Salah satu faktor yang seringkali dinyatakan sebagai penyebab kenaikan harga beras belakangan ini adalah fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan di berbagai daerah .
Kondisi tersebut memicu gagal tanam dan gagal panen di berbagai wilayah sentra produksi padi nasional.
Namun, tidak dapat dipungkiri banyak rumor yang beredar bahwa pemicu harga beras naik yakni akibat inflasi dan bansos yang diberikan pemerintah.
Kendati demikian, rumor tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya sebab pemerintah menegaskan sekalipun ada kenaikan harga beras, tidak ada kaitannya dengan bansos yang diberikan kepada masyarakat.
Harga Beras Naik, Penjual Nasi Terancam Gulung Tikar
Salah satu penjual nasi kulit di Sumedang mengatakan akhir-akhir ini beras naik sampai pada harga Rp 19.000 perkilogram, karena pedagang seperti saya membutuhkan beras kualitas terbaik.
“Pada akhirnya saya harus mengurangi porsi nasi ke masing-masing pembeli, yang menyebabkan pembeli banyak yang protes karena porsinya dikurangi,” ujar penjual nasi kulit di Sumedang.
Dikatakan, kalau dibiarkan terus-terusan, dampak dari harga beras naik ini dapat menjadi bencana bagi pedagang-pedagang nasi yang kehilangan pelanggannya satu-persatu.
Kenaikan Harga Beras Memicu LSM untuk Beraksi
Kenaikan harga beras ini memicu keresahan dan kesusahan bagi para pelaku usaha terutama di Kabupaten Sumedang.
”Kami telah melakukan diskusi dengan beberapa pelaku usaha di Kabupaten Sumedang, semua merasakan hal yang sama yakni keresahan kenaikan harga beras, mereka mengaku sangat kesusahan dengan harga beras yang hampir mencapai Rp 20.000 perkilogram ini.”ujar Kiki Ramdani selaku LSM peduli UMKM.
Ia mengungkapkan bahwa kenaikan harga beras yang tidak wajar ini membuat LSM tidak bisa tinggal diam. Mereka mencoba untuk mencari solusi terbaik untuk mengatasi kondisi sekarang ini.
”Kami tergerak untuk ikut mengadvokasi masalah ini, sebagai upaya untuk menyelesaikan permasalahan kenaikan harga beras saat ini” ujar Kiki Ramdani selaku LSM peduli UMKM.
Masyarakat Resah, Mahasiswa Siap Melangkah
Fenomena kenaikan harga beras saat ini memicu mahasiswa untuk melakukan pergerakan. Mereka mencoba mencari dalang dibalik kondisi ini.
Ketua PMII Komisariat Unpad, Miqdad mengatakan, apabila kenaikan beras dirasa sudah sangat memberatkan masyarakat khususnya pelaku UMKM, kami tidak akan tinggal diam. Kami merasa ada yang tidak beres dengan suplai beras saat ini, sehingga menyebabkan adanya lonjakan harga beras.
Mereka akan mencoba mengusut penyebab kondisi ini dari sumber awal terdistribusi nya beras yakni gudang Bulog, karena beberapa pihak sudah merasa ada yang salah dengan tempat tersebut.
”Kami siap untuk menggeruduk Gudang Bulog terdekat, untuk mengecek stok beras saat ini, dan mendorong pihak terkait untuk segera melakukan langkah-langkah untuk menstabilkan harga beras.” ujar Miqdad sebagai penutup.





