Etika yang Tergadai: Ketika Arogansi Menantang Kedalaman Intelektual

KABARPEMUDA.ID — Ruang publik kita belakangan ini kerap berubah menjadi ring tinju verbal yang melelahkan batin. Diskusi yang sejatinya menjadi ajang dialektika untuk mencerahkan nalar, kini sering kali terjebak dalam drama arogansi yang melukai kewarasan kolektif.

Fenomena ini mencapai titik nadir saat publik disuguhi perilaku narasumber yang tidak hanya lemah secara substansi, tetapi juga miskin secara etika.

Potret degradasi ini tersaji nyata dalam program “Rakyat Bersuara” di iNews TV.

Sebuah pemandangan ganjil, bahkan cenderung surealis, muncul saat Permadi Arya (Abu Janda) tampil dengan kepercayaan diri yang melampaui kapasitasnya.

Puncak ironi meledak ketika ia berhadapan dengan Prof. Ikrar Nusa Bhakti. Di sana, publik menyaksikan seseorang yang rekam jejak akademisnya belum teruji, dengan jemawa mencoba mendominasi narasi di depan seorang pakar tulen.

Publik menyaksikan kontradiksi yang telanjang: benturan antara kedalaman “samudra ilmu” seorang profesor yang tenang, melawan riuhnya “riak air dangkal” yang penuh kepalsuan. Namun, yang paling menyedihkan bukanlah perbedaan status akademis keduanya, melainkan bagaimana ketidaktahuan tersebut dibungkus dengan kesombongan yang meluap-luap.

Sikap Permadi Arya menjadi sorotan tajam bukan tanpa alasan. Penggunaan diksi dan bahasa yang tidak pantas untuk siaran televisi nasional menunjukkan hilangnya kontrol diri dan penghormatan terhadap forum.

Di titik inilah kita diingatkan kembali pada nilai fundamental: Adab. Dalam tradisi intelektual mana pun, ilmu tanpa adab hanyalah sampah yang berserakan.

Secara psikologis, ini adalah manifestasi sempurna dari kondisi di mana seseorang yang minim literasi merasa memiliki pengetahuan selangit, justru karena ia tidak menyadari betapa luasnya samudera ilmu yang belum ia selami.

Ketika logika mulai rontok dihantam data autentik dan fakta akademis, senjata yang digunakan biasanya bukan lagi akal sehat, melainkan “urat leher”.

Perilaku menghardik dan penggunaan bahasa kasar yang dipertonjolkan Permadi Arya adalah bentuk mekanisme pertahanan diri yang putus asa.

Saat seseorang kehilangan substansi untuk membantah secara elegan, menyerang secara personal menjadi pilihan terakhir untuk menutupi kekosongan di kepala.

Arogansi menjadi topeng agar tidak terlihat kerdil, meski bagi penonton yang jeli, semakin keras seseorang berteriak tanpa isi, semakin telanjang pula kemiskinan ide yang dimilikinya.

Langkah tegas moderator, Aiman Witjaksono, yang mengambil tindakan darurat untuk menertibkan narasumber yang kehilangan kompas etika, adalah upaya krusial untuk menyelamatkan marwah media kita.

Tanpa ketegasan itu, ruang publik hanya akan menjadi panggung bagi mereka yang “mabuk panggung” individu yang haus akan pengakuan, namun enggan menempuh jalan panjang kerendahan hati.

Pada akhirnya, kejadian ini menjadi cermin bagi kita semua. Pengetahuan seharusnya melahirkan ketawaduan (kerendahan hati), bukan kesombongan yang menjijikkan.

Menghardik sosok yang lebih senior secara usia dan lebih tinggi secara derajat akademik bukanlah bentuk keberanian; itu adalah pertunjukan ketidaksantunan yang nyata.

Ilmu mungkin bisa dicari lewat tumpukan buku atau mesin pencari, namun adab hanya tumbuh dari jiwa yang matang.

Di atas panggung debat mana pun, kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa ahli ia merasa, melainkan oleh seberapa mampu ia menghargai lawan bicaranya. Karena sesungguhnya, di atas ilmu, ada adab yang menjaga martabat manusia. (Teguh Safary)***

Pos terkait