KABARPEMUDA.id, Tanjungmedar — Angin segar berembus bagi sektor pertanian di Desa Wargaluyu, Kecamatan Tanjungmedar. Di tengah hamparan lahan garapan yang menjadi urat nadi perekonomian warga, sebuah asa baru kini mewujud nyata. Melalui program Kementerian Pertanian (Kementan) RI yang disinergikan dengan pengawalan ketat Pemerintah Kabupaten Sumedang, infrastruktur vital berupa Dam Parit tengah dibangun guna menuntaskan tantangan irigasi yang selama ini membayangi para petani.
Guna memastikan kualitas fisik dan kemanfaatan program tepat sasaran, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Sumedang, Dr. H. Tono Suhartono, S.P., M.M.,turun langsung menyisir lokasi pembangunan pada fase pemantauan lapangan (monitoring). Langkah proaktif ini menjadi jaminan mutlak bahwa bantuan penunjang agrikultur dibangun memenuhi spesifikasi teknis tinggi dan siap memberikan manfaat jangka panjang.
Di sela-sela peninjauan fisik, Dr.H. Tono menegaskan pentingnya keandalan infrastruktur air sebagai benteng utama pertahanan pangan daerah.
“Pembangunan infrastruktur air yang presisi dan andal adalah kunci utama keberlanjutan panen para petani. Kami ingin memastikan setiap fasilitas terkelola secara efisien, transparan, dan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas serta kesejahteraan masyarakat tani, khususnya dalam menghadapi dinamika perubahan iklim dan ancaman kekeringan,” ujar Kadis.
Parit di Desa Wargaluyu dikelola secara swadaya dan penuh semangat gotong royong oleh Kelompok Tani (Poktan) Keramat. Kolaborasi ini menjadi potret ideal pembangunan berbasis kemitraan: Kementan sebagai pemantik program, DPKP Sumedang sebagai pengawal teknis daerah, dan Poktan Keramat sebagai ujung tombak pelaksana di lapangan.
Dalam peninjauan tersebut, Dr. H.Tono bersama jajaran teknis DPKP menelusuri langsung konstruksi dinding pembendung beton, kesiapan pintu penampung, hingga efisiensi saluran pembuangan dan pembagi air (tersier). Langkah ini dilakukan untuk memastikan debit air terdistribusi presisi hingga ke petak sawah paling ujung.
Bagi Poktan Keramat, keberadaan bendungan mini ini ibarat oase. Selama ini, fluktuasi pasokan air terutama saat musim kemarau selalu mengancam potensi panen. Dengan rampungnya fasilitas penampung air ini, stabilitas irigasi dipastikan akan bermuara pada peningkatan Indeks Pertanaman (IP). Para petani kini memiliki kepastian untuk menanam dan memanen lebih sering dalam setahun dengan volume hasil yang jauh lebih melimpah.
Keberlanjutan
Tidak hanya berfokus pada keandalan fisik beton dan semen, rangkaian pemantauan juga diisi dengan forum dialog tatap muka bersama jajaran pemerintah desa dan pengurus kelompok tani. Wadah diskusi ini dimanfaatkan untuk merumuskan tata kelola dan pola redistribusi air yang adil bagi seluruh anggota.
Dalam forum dialog tersebut, Dr. H.Tono kembali memberikan arahan dan dorongan moral kepada para pengurus Poktan Keramat.
“Bangunan fisik ini hanyalah sarana penunjang. Ruh utamanya tetap terletak pada kekompakan dan rasa memiliki dari Poktan Keramat. Kita ingin Tanjungmedar tidak hanya sekadar menerima bantuan, tetapi bertransformasi menjadi kawasan lumbung pangan yang mandiri, tangguh, dan berkelanjutan,” tambah Dr. H.Tono.
Wargaluyu kini tidak lagi sekadar susunan batu, pasir, dan semen. Ia telah berdiri sebagai monumen sinergitas pemerintah dan masyarakat sebuah komitmen nyata yang siap mengalirkan kesejahteraan ke setiap petak tanah petani di Tanjungmedar.***
