
Oleh: Teguh Safary
CATATAN – Indonesia hari ini adalah potret kontradiksi yang hidup. Di satu sisi, negara gencar memamerkan kalkulasi beton, jalan tol, hingga bandara internasional. Namun di sisi lain, jika lapisan tipis modernitas itu dikikis, panggung politik nasional ternyata masih didekte oleh kecemasan metafisik masa lalu.
Dua titik di Pulau Jawa, Kecamatan Ujungjaya di Sumedang, Jawa Barat, dan Kota Kediri di Jawa Timur berdiri sebagai monumen hidup dari paradoks ini. Bagi para elite politik, kedua wilayah tersebut adalah “zona merah spiritual” di mana nalar modern kedinasan harus berkompromi dengan ketakutan purba akan runtuhnya kekuasaan.
Ujungjaya dan Teror Semantik ‘Ujung Kejayaan’
Ketakutan yang menyelimuti Ujungjaya lahir dari kekuatan magis sebuah nama dan ramalan lisan Sunda kuno (Uga). Secara etimologis, Ujungjaya bermakna “Ujung” (akhir) dan “Jaya” (kejayaan). Bagi penguasa yang mengagungkan kelanggengan takhta, arti harfiah ini adalah teror psikologis.
Ketakutan ini dipertegas oleh wanti-wanti leluhur dalam Uga kuno: “Ujungjaya bakal jadi nagara.” Kalimat mistis ini ditafsirkan sebagai batas kedaulatan spiritual yang tidak boleh diusik sebelum waktunya. Konon, pejabat teras yang nekat berkantor atau memijakkan kaki di tanah ini, karier politiknya akan menemui titik akhir.
Kutukan Kediri: Ketika Sejarah Mengamini Mitos
Jika Ujungjaya adalah ancaman tersirat dalam bahasa, maka Kota Kediri adalah ancaman yang tertulis dalam sejarah. Mitos “Kutukan Kediri” yang konon berasal dari kutukan Raja Kartikea Singha terhadap penguasa yang tidak adil telah bertransformasi menjadi momok nyata.
Kolektif memori publik mencatat pola sejarah yang mencengangkan: tiga Presiden Indonesia Soekarno, B.J. Habibie, dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) lengser dari kursi kekuasaan tidak lama setelah mengunjungi kota tersebut. Akibatnya, muncul protokoler tak tertulis agar presiden aktif menghindari wilayah inti kota demi menjaga keselamatan politik mereka.
Saat Megaproyek Tunduk pada Batasan Spiritual
Bagaimana nalar modern meresponsnya? Bukan dengan menentang, melainkan berkompromi melalui taktik yang unik.
Pada proyek Jalan Tol Cisumdawu, pengelola melakukan “diplomasi semantik” dengan mengubah nama Gerbang Tol Ujungjaya menjadi Gerbang Tol Cisumdawu Jaya demi membuang bias makna kata “Ujung”. Bahkan, saat peresmian oleh Presiden Joko Widodo, agenda yang semula dijadwalkan di kawasan Gerbang Tol Ujung Jaya Utama mendadak dialihkan ke area Twin Tunnel di Rancakalong. Spekulasi pun merebak bahwa sang kepala negara sedang menghormati batasan mistis kearifan lokal.
Siasat Geografis dan Realitas Politik Lokal
Meski mitos ini kuat, arus modernitas melahirkan upaya perlawanan pragmatis:
Taktik Spasial : Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berhasil mengunjungi Kediri dua kali (2007 dan 2014) tanpa terjungkal. Rahasia geografisnya, SBY tidak pernah menyeberangi Sungai Brantas dan hanya beraktivitas di sisi timur wilayah Kediri.
Logika Kedaulatan : Pembangunan Bandara Dhoho di Kediri menjadi simbol perlawanan rasional bahwa pelayanan publik tidak boleh disandera ketakutan masa lalu.
Namun, pengujian atas mitos ini tidak hanya terjadi di tingkat nasional, melainkan juga merambah ke panggung politik lokal. Lanskap spekulasi publik kembali memanas saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memilih absen dalam acara Panen Raya Padi di Kecamatan Ujungjaya, Sumedang, pada Jumat (17/7).
Ketidakhadiran orang nomor satu di Jawa Barat dalam agenda strategis sektor pertanian ini memicu kasak-kusuk di kalangan masyarakat. Apakah absennya sang gubernur murni karena benturan jadwal birokrasi, ataukah ia sebagai tokoh yang dikenal lekat dengan kebudayaan dan kearifan lokal memilih untuk tidak “menantang” Uga kuno demi menjaga stabilitas politiknya? Peristiwa ini memperpanjang daftar panjang bagaimana para penguasa bersikap hati-hati di hadapan garis batas mistis Ujungjaya.
Akhir kata, fenomena Ujungjaya dan Kediri membuktikan bahwa lanskap politik Indonesia tidak pernah benar-benar sekuler. Di balik jas rapi, statistik pertumbuhan ekonomi, dan teknologi beton, denyut kepercayaan leluhur tetap menjadi variabel laten yang diperhitungkan. Ujungjaya dan Kediri adalah pengingat bahwa di tanah Nusantara, nalar modern sesekali harus membungkuk hormat di hadapan ketakutan purba.***
Penulis : Jurnalis Kabar Priangan Online



