KABARPEMUDA.ID — Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Sumedang menunjukkan kepeduliannya terhadap korban bencana longsor di Kampung Cirangon, Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Sumedang Selatan, Senin (13/4/2026).
Dalam kegiatan tersebut, jajaran pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sumedang bersama Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat Ono Surono yang didampingi Wakil Ketua Bidang Kehormatan Ineu Purwadewi Sundari, menyerahkan sejumlah bantuan bagi warga terdampak.
Bantuan yang diberikan meliputi kebutuhan mendesak seperti pakaian, perlengkapan tidur, terpal, hingga kebutuhan dasar lainnya bagi para korban, khususnya keluarga yang terdampak langsung akibat longsor.
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sumedang, Atang Setiawan, menegaskan pentingnya langkah mitigasi bencana pascakejadian. Menurutnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah memiliki kajian terkait wilayah yang berpotensi berbahaya dan perlu segera direlokasi.
“BPBD tentu sudah memiliki perhitungan wilayah mana yang harus segera direlokasi dalam rangka penyelamatan jiwa. Selain itu, kami di DPRD akan mendorong berbagai langkah penanganan, termasuk perbaikan drainase yang diduga menjadi salah satu penyebab longsor,” ujar Atang.
Ia menambahkan, pihaknya akan terus mendorong pemerintah daerah agar segera mengambil langkah konkret, baik dalam penanganan dampak maupun pencegahan bencana serupa di masa mendatang.
Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Ono Surono, menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya salah satu warga, Fendi Supendi, yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
“Kami turut berduka cita. Ini harus menjadi perhatian serius semua pihak, mengingat Sumedang merupakan wilayah rawan bencana dengan sejumlah zona yang perlu penanganan khusus,” kata Ono.
Ia menjelaskan, Desa Mekar Rahayu sebelumnya masuk dalam kategori zona kuning atau waspada. Namun dengan terjadinya longsor, diperlukan evaluasi ulang untuk menentukan apakah wilayah tersebut perlu ditetapkan sebagai zona merah.
“Mitigasi harus dilakukan kembali, termasuk inventarisasi wilayah rawan bencana. Jika memang berisiko tinggi, relokasi warga menjadi langkah yang harus dipertimbangkan demi keselamatan,” tegasnya.
Selain itu, Ono juga mendorong pemerintah untuk segera membantu pembangunan kembali rumah warga yang rusak serta memastikan kebutuhan hidup korban dapat terpenuhi.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kebencanaan kepada masyarakat, terutama terkait tanda-tanda alam seperti curah hujan tinggi dan angin kencang yang berpotensi memicu bencana.
“Dengan edukasi yang baik, masyarakat bisa lebih siap dan waspada sehingga dampak bencana dapat diminimalisir,” ujarnya.
Terkait bencana longsor yang kerap terjadi di wilayah Cadas Pangeran, Ono turut mendorong adanya perhatian dari pemerintah pusat, khususnya dalam pembangunan infrastruktur seperti tembok penahan tanah (TPT) di sepanjang jalur rawan.
“Keselamatan warga harus menjadi prioritas. Untuk wilayah zona merah, relokasi menjadi solusi utama. Sementara untuk jalur nasional seperti Cadas Pangeran, diperlukan pembangunan yang mampu meminimalisir risiko longsor,” pungkasnya. ***





