Dedy Hernawan: Ironi di Balik Sukses Simpay Panaratas di Jerman, Tanpa Dukungan Disparbudpora dan Bupati

KABARPEMUDA.ID — Setelah menempuh perjalanan panjang misi kesenian di Jerman, grup seni Simpay Panaratas akhirnya kembali ke tanah air dengan selamat dan penuh kenangan manis. Rangkaian tour yang digelar sejak awal Agustus 2025 itu berhasil mengangkat seni gamelan dan budaya Sumedang ke panggung internasional.

Kedatangan Simpay Panaratas di Berlin pada 1 Agustus 2025 disambut hangat oleh Kepala KUAI serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin. Keesokan harinya, pada 2–3 Agustus, grup ini menggelar Workshop Gamelan di Rumah Budaya Indonesia (RBI) Berlin, bersama pelajar dan pekerja Indonesia yang bermukim di Jerman.

Pimpinan Simpay Panaratas, Dedy Hernawan kepada wartwan sabtu/08/2025 mengungkapkan, Usai dari Berlin, Simpay Panaratas yang beranggotakan tiga musisi gamelan Dedy Hernawan, Devi Anggitaningrum, dan Muhammad Gilang Assadillah melanjutkan perjalanan ke Munchen pada 4–7 Agustus 2025.

Di kota ini, mereka menyelenggarakan workshop sekaligus pertunjukan gamelan yang ditutup dengan penampilan di EineWeltHaus.

Meski sederhana, pertunjukan tersebut sukses menarik perhatian publik.

Puncak perjalanan terjadi ketika Simpay Panaratas kembali ke Berlin untuk memenuhi undangan tampil di ajang Young Euro Classic Festival pada 8–10 Agustus 2025. Di gedung megah Konzerthaus Berlin, grup ini tampil sepanggung dengan Tbilisi Youth Orchestra dari Georgia.

Pada 10 Agustus 2025, Simpay Panaratas menorehkan sejarah dengan membawakan karya tradisi hingga kontemporer selama satu jam penuh, memukau ratusan penonton yang hadir. Pertunjukan berakhir dengan sambutan meriah sekaligus menjadi penutup perjalanan budaya mereka di Jerman.

“Perjuangan mengangkat ajen inajen seni kasumedangan akan terus dilakukan, kapan pun dan di mana pun,” ujar Dedy Hernawan, pimpinan grup Simpay Panaratas.

Ia juga menegaskan bahwa tahun 2026 mendatang pihaknya sudah menyiapkan tur berikutnya dengan cakupan wilayah yang lebih luas.

Ironisnya, perjalanan misi kesenian internasional ini sama sekali tidak mendapatkan dukungan dari Disparbudpora Kabupaten Sumedang maupun Bupati Sumedang.

Padahal, Sumedang dikenal dengan gelar “Puseur Budaya Sunda”, namun para seniman justru harus berjuang sendiri demi mengharumkan nama daerah di kancah dunia.

Meski begitu, keberhasilan Simpay Panaratas di Jerman menjadi bukti nyata bahwa seni dan budaya Sumedang mampu bersaing serta mendapat apresiasi di tingkat internasional. ***

Pos terkait