Di Bawah Langit Jabar, “Bapa Aing” Menikahi Tanggung Jawab: Narasi Lelaki yang Kehilangan Rumah Demi Membangun Rumah Besar Jawa Barat

Oleh: Teguh Safary

CATATAN – Di tengah riuh rendah orasi politik yang seringkali hanya menjadi komoditas lima tahunan, Jawa Barat menyaksikan sebuah anomali yang berdiri kokoh: Dedi Mulyadi.

Ia bukanlah pejabat yang hadir dengan barisan ajudan kaku yang menciptakan jarak mikroskopis dengan rakyatnya. Ia adalah seorang penyintas kehidupan yang telah lulus dari kawah candradimuka ujian zaman.

Perjalanan hidupnya adalah sebuah simfoni yang janggal namun indah; sebuah epik tentang bagaimana seseorang membangun istana harapan bagi jutaan rakyat, justru ketika “rumah” pribadinya sedang runtuh berkeping-keping. Di sinilah letak kemanusiaan yang paling murni: kemampuan untuk tetap memberi saat diri sendiri sedang kehilangan.

*Arkeologi Ingatan: Dari Tanah Subang Menuju Jantung Rakyat*

KDM tidak lahir dari beludru kemewahan. Sebagai anak kesembilan yang tumbuh dalam keprihatinan ekonomi di pelosok Subang medio 1970-an, ia mengenal dunia melalui aroma tanah basah dan kerasnya perjuangan bertahan hidup. Masa kecilnya adalah kurikulum kemiskinan yang ia pelajari dengan tekun. Namun, kekurangan materi tidak membuatnya kerdil secara spiritual.

Memori tentang sosok Ibu seorang perempuan tangguh yang menjadi pilar dalam kemelaratan menjadi kompas moral yang tak pernah meleset dalam setiap kebijakan publik yang ia ambil. Baginya, setiap warga Jawa Barat yang kesulitan, setiap emak-emak yang menangis karena harga beras, adalah cerminan dari keluarganya di masa lalu.

Inilah yang membuat gaya kepemimpinannya meluap dengan empati yang autentik. Ia memimpin bukan dengan deretan angka statistik yang dingin dan tak berjiwa, melainkan dengan detak jantung rakyat kecil.

Maka tak heran, di akar rumput, ia disapa dengan sebutan penuh kebanggaan sekaligus kasih sayang: “Bapa Aing”. Sebuah pengakuan tulus bahwa ia adalah ayah, pelindung, dan sandaran bagi mereka yang terpinggirkan.

Dialektika Kebudayaan: Teguh di Tengah Badai Teologis

Kariernya di Purwakarta menjadi fragmen sejarah yang paling dramatis.

Saat ia berusaha menghidupkan kembali ruh kebudayaan Sunda melalui estetika gapura yang megah, revitalisasi filosofi wayang, hingga menghidupkan kembali spiritualitas leluhur melalui simbol-simbol alam, ia justru dihantam badai teologis yang dahsyat.

Tuduhan musyrik hingga vonis pengafiran menjadi santapan sehari-hari dari kelompok yang gagal memahami kedalaman budaya.

Namun, sosok yang akrab disapa KDM ini menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin yang telah tuntas dengan jati diri.

Ia tidak membalas kebencian dengan amuk, melainkan dengan keteguhan estetika. Ia membuktikan bahwa Islam dan Sunda bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua sayap yang menerbangkan peradaban Jawa Barat menuju kemuliaan.

Kemenangannya menuju kursi kepemimpinan Jawa Barat adalah sebuah proklamasi tanpa suara: bahwa pada akhirnya, rakyat lebih mencintai “bukti rasa” dan kerja nyata daripada sekadar narasi kebencian yang kering.

Tragedi di Balik Takhta: Jalan Sunyi Seorang Ayah Tunggal

Puncak ironi kehidupan KDM terjadi justru saat dunia luar melihatnya sebagai pemenang sejati. Di tengah gegap gempita amanah memimpin Jawa Barat, “jangkar” domestiknya terlepas.

Keruntuhan rumah tangga yang berakhir di meja pengadilan adalah luka terbuka yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik kemeja putihnya yang khas.

Ada kegetiran yang mendalam ketika menyaksikan seorang pemimpin mampu menyatukan jutaan pikiran orang lain, mendamaikan konflik warga, namun harus merelakan perpisahan di rumahnya sendiri.

Kesendiriannya saat ini bukanlah sekadar status sipil di atas kertas; itu adalah sebuah fase pengorbanan yang sunyi dan personal. Ia pulang ke rumah yang tak lagi sama, sunyi dari hiruk pikuk keluarga inti, namun di sinilah sosok Dedi menjadi sangat manusiawi.

Ia membuktikan bahwa seorang pemimpin hebat tetaplah lelaki yang bisa patah hati, namun ia memilih untuk tidak patah arang. Sebagai ayah tunggal yang tegar, ia menjadikan kesedihannya sebagai pupuk bagi kebijakan yang lebih bijaksana.

Ia menukar air mata pribadinya dengan senyuman warga yang ia bantu di pelosok desa.

Mahkota Kesunyian: Metafora Kirab Binokasih

Kemegahan acara Kirab Binokasih Sangiang Pake adalah metafora paling tepat untuk hidupnya saat ini. Di tengah ribuan pasang mata yang menyaksikan keagungan budaya Sunda, KDM berdiri tegak, memanggul beban sejarah dan harapan masa depan.

Ia mungkin merasa sepi secara personal dalam ruang privatnya, namun ia merasa penuh secara spiritual dalam ruang publiknya.

Melalui sorot matanya yang tajam namun teduh, ia seolah berpesan kepada alam semesta: meski hidup telah merenggut potongan kebahagiaan pribadinya, ia tidak akan membiarkan rakyatnya kehilangan kebahagiaan atas identitas dan kesejahteraan mereka.

Menjadi “Bapa Aing” bagi jutaan anak-anak yatim dan kaum duafa di Jawa Barat adalah penawar paling mujarab bagi sunyinya rumah tangga yang kini ia huni sendiri.

Janji Setia pada Tanah Pasundan

Kini, di bawah langit Jawa Barat yang luas dan biru, Dedi Mulyadi terus melangkah tanpa henti. Ia adalah lelaki yang telah kehilangan “rumah” kecilnya, namun dengan jiwa besar ia memilih untuk menjadikan seluruh bentang tanah Jawa Barat sebagai rumah besarnya.

Pengabdian kini bukan lagi sekadar karier atau syahwat kekuasaan, melainkan sebuah bentuk pelarian yang paling mulia dan sublim.

Meski harus menempuh jalan sunyi tanpa pendamping di sisi, ia telah menetapkan hati dalam sumpah yang tak terucapkan: bahwa tanggung jawab kepada rakyat Jawa Barat adalah “istri” pertama dan terakhir yang tak akan pernah ia khianati. Ia telah melakukan barter yang paling heroik dalam sejarah pribadinya: menukar luka batinnya dengan mahkota pengabdian bagi negeri.

Semoga KDM “Bapa Aing” senantiasa diberikan kesehatan yang prima dan kekuatan batin yang tak terbatas. Tetaplah teguh pada prinsip Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh demi mewujudkan Jawa Barat yang benar-benar Istimewa.

Aamiin Ya Rabbal Alamin.***

Pos terkait