SUMEDANG,KABARPEMUDA.id — Tunas-tunas muda pelestari budaya kembali mekar di bumi Sumedang. Gelombang kebanggaan menyelimuti keluarga besar SMP Negeri 1 Conggeang seiring dipastikannya dua putra-putri terbaiknya, Sahrul dan Hanifah, untuk melangkah percaya diri menatap panggung Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Jawa Barat.
Langkah mantap Sahrul dan Hanifah menuju panggung Jawa Barat merupakan buah manis dari perjuangan panjang. Setelah menorehkan penampilan impresif dan mengungguli para pesaingnya di tingkat kabupaten, kini keduanya bersiap mengemban misi mulia: merawat nyala api bahasa dan seni tradisi Sunda agar tetap lestari di dada generasi muda.
Buah Dedikasi dan Gemblengan Intensif
Di balik capaian gemilang ini, terselip cerita tentang kedisiplinan dan mentalitas juara. Guru pembina yang setia mengawal proses tumbuh kembang bakat mereka menuturkan kekagumannya atas ketangguhan kedua siswa tersebut sepanjang masa persiapan.
“Sahrul dan Hanifah memancarkan etos belajar dan kedisiplinan yang luar biasa. Tempaan latihan intensif mulai dari pendalaman penjiwaan materi hingga pematangan teknik pementasan mereka lahap dengan penuh komitmen. Kami dari tim pembina sangat optimistis, bermodalkan persiapan yang matang serta dorongan doa dari seluruh warga sekolah, mereka akan tampil mengagumkan dan membawa pulang prestasi membanggakan,” tegas sang Guru Pembina dengan penuh keyakinan.
Apresiasi Setinggi Langit dari Kepala Sekolah
Dukungan moral dan spiritual mengalir deras dari pucuk pimpinan sekolah. Kepala SMP Negeri 1 Conggeang, Adang Rohendi, menyampaikan apresiasi mendalam dan rasa bangga yang tak terhingga atas dedikasi para siswa serta kegigihan tim pembina yang berhasil mengantarkan anak didiknya hingga ke tahap bergengsi ini.
“Kehadiran Sahrul dan Hanifah di tingkat provinsi adalah sebuah penghormatan dan kebanggaan besar, tidak hanya bagi SMPN 1 Conggeang tetapi juga bagi seluruh masyarakat Sumedang. Panggung ini bukan sekadar arena memburu piala, melainkan mimbar kehormatan bagi anak-anak kita untuk mengekspresikan jati diri, melestarikan warisan adiluhung Sunda, serta mengibarkan nama baik daerah,” ujar Adang Rohendi dengan nada haru penuh kebanggaan.
Menutup restunya, Adang berpesan agar kedua duta budaya ini tetap menapak bumi, tampil mantes penuh aura percaya diri, serta senantiasa menjaga stamina. Seraya diiringi doa dan harapan seluruh civitas akademika, perjuangan Sahrul dan Hanifah diharapkan tidak hanya berbuah manis di podium juara, tetapi juga menjadi pemantik inspirasi bagi generasi penerus lainnya untuk terus mencintai dan merawat bahasa ibu.***





