Krisis Air Bersih Hantam Ciaseum Sumedang, Warga Minta Sistem Bergilir Diterapkan Mencegah Konflik

Fhoto :  Ilustrasi

KABARPEMUDA.id – Memasuki awal musim kemarau, krisis air bersih mulai merembet ke pemukiman warga. Di Dusun Ciaseum, Desa Karanglayung, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, warga mengeluhkan pasokan air yang kian menyusut hingga sering kali macet total pada Senin (27/7).

Pasokan air dari program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), yang selama ini menjadi tumpuan utama, tidak lagi mengalir lancar. Kondisi ini diperparah oleh mengeringnya saluran air buhun saluran tradisional hasil swadaya masyarakat yang biasa diandalkan sebagai cadangan. Tanpa kepemilikan sumur pribadi, sebagian besar warga Ciaseum kini berada dalam kondisi darurat air.

Krisis ini turut membangkitkan ingatan pahit masa lalu. Seorang warga meluapkan kekecewaannya di media sosial lantaran situasi saat ini dinilai mirip dengan kekeringan parah yang pernah melumpuhkan wilayah tersebut puluhan tahun silam.

“Astagfirullah, rasanya seperti kembali ke tahun 2008 gara-gara air. Harus melapor ke siapa dan mengajukan usulan ke mana untuk warga yang mengalami kekeringan ini?” tulisnya dalam unggahan yang tular di media sosial.

Penurunan debit air dari kawasan hulu yang berpadu dengan lambatnya respons pengelola Pamsimas kini memicu keresahan warga di tingkat bawah. Berada di posisi paling rentan, warga di kawasan hilir merasa luput dari perhatian.

Ketiadaan solusi cepat dikhawatirkan dapat memicu aksi nekat warga yang berpotensi melanggar hukum, seperti perusakan atau pembobolan saluran utama secara sepihak demi mendapatkan pasokan air.

“Sabar dan diam itu membuat dada sakit. Kalau warga akhirnya mencari jalan sendiri, dikhawatirkan ada yang nekat membobol jalur utama karena ikut-ikutan. Ujung-ujungnya nanti malah berhadapan dengan hukum,” ujar salah seorang warga Ciaseum yang enggan disebutkan namanya.

Untuk mencegah terjadinya konflik sosial, warga mendesak pengelola Pamsimas dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret. Masyarakat mengusulkan penerapan sistem pembagian air secara bergilir yang teratur dan transparan. Langkah ini dinilai paling rasional agar keterbatasan pasokan air dapat terbagi secara adil dan merata (walatra) ke seluruh pemukiman.

Hingga berita ini diturunkan, pasokan air bersih belum juga mengalir ke rumah-rumah warga. Pihak Pemerintah Desa Karanglayung maupun pengelola Pamsimas setempat belum memberikan tanggapan resmi terkait langkah tanggap darurat yang akan diambil untuk mengatasi krisis tersebut. ***

Pos terkait