KABARPEMUDA.jd — Langkah-langkah akademisi muda memenuhi area Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Dayangsumbi, Kelurahan Kotakaler, Sabtu (25/7/2026). Pagi itu, sebanyak 119 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta berkumpul untuk menyelami wacana baru di dunia agribisnis: mentransformasi pekarangan rumah menjadi ladang ekonomi bernilai tinggi melalui budidaya anggur modern.
Inisiatif bertajuk “Teknik Praktis & Sukses Bisnis Pertanian Masa Kini” ini diinisiasi oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Penggiat Anggur Indonesia (ASPAI) Kabupaten Sumedang yang berkolaborasi dengan kampus asal Yogyakarta tersebut. Agenda ini turut disaksikan oleh jajaran Kementerian Agama Kabupaten Sumedang, jajaran pemerintah kelurahan setempat, serta deretan penggiat hortikultura kawasan Sumedang.
Pelatihan ini tak sekadar menyajikan teori di atas kertas, melainkan menjadi ruang inkubasi bagi para mahasiswa untuk mengidentifikasi potensi tersembunyi dari pertanian perkotaan (urban farming).
Ketua DPD ASPAI Kabupaten Sumedang, H. Egi Zaenal Mutaqin, menegaskan bahwa Sumedang telah membuktikan kelayakan iklim dan tanahnya untuk pengembangan varietas anggur unggulan yang semula diimpor dari luar daerah.
“Hanya butuh waktu sekitar tujuh bulan dari penanaman awal hingga tanaman mulai fase generatif dan berbuah. Usai pembungaan, buah anggur membutuhkan kurun waktu 100 hingga 120 hari hingga mencapai masa panen optimal,” terang Egi di hadapan para peserta.
Egi mematahkan dogma klasik yang menyebut bahwa agribisnis bernilai tinggi selalu membutuhkan hamparan lahan yang luas. Lewat metode Tabulampot (Tanaman Buah dalam Pot), sebatang pohon anggur mampu memproduksi 5 hingga 6 kilogram buah per siklus panen.
“Dengan estimasi harga pasar Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram, satu pot anggur berpotensi mendatangkan omzet hingga Rp500.000. Bayangkan jika masyarakat mengonversi tanaman hias non-produktif di pekarangan mereka dengan anggur; selain nilai estetika, ada akselerasi ekonomi yang nyata di sana,” tegasnya optimis.
Saat ini, gerakan tersebut telah mengakar dengan lebih dari 300 anggota komunitas penggiat yang tersebar di belasan kecamatan di Kabupaten Sumedang. Egi mengimpikan lahirnya reposisi citra Sumedang dari sekadar daerah agraris konvensional menjadi sentra hortikultura bernilai ekonomi tinggi.
Perspektif lain dihadirkan oleh Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian Kabupaten Sumedang, H. Ayuh Hidayat, yang juga merupakan seorang praktisi budidaya anggur. Pengalamannya menyelamatkan 14 bibit anggur dalam polybag menjadi titik balik keyakinannya terhadap daya tahan dan prospek ekonomi tanaman ini.
Ayuh tak hanya melihat anggur sebagai komoditas mentah, melainkan sebagai ekosistem bisnis baru yang dinamis. Beliau menggagas inovasi model bisnis berupa penyewaan pot anggur berbuah hingga konsep agrowisata petik langsung di tempat.
“Kami merancang skema berbasis pengalaman konsumen. Tanpa harus menjual kepemilikan tanamannya, kita bisa menyewakan pot yang sedang siap panen misalnya dengan tarif Rp200.000. Konsumen menikmati sensasi memetik dan mengonsumsi buahnya, sementara perawatan teknis tetap berada di bawah kendali kita,” papar Ayuh.
Menurutnya, sektor hilir ini sangat terbuka bagi para pelaku UMKM maupun generasi muda yang terkendala permodalan lahan. Kunci utamanya terletak pada integrasi rantai pasok (supply chain) yang solid mulai dari pembudidaya, kelembagaan koperasi, hingga akses pasar yang terserap secara berkelanjutan.
Melalui rangkaian pemaparan komprehensif, simulasi praktis, dan ruang diskusi interaktif, pelatihan ini ditutup dengan optimisme tinggi. Kolaborasi antara praktisi lokal dan kalangan akademisi ini diharapkan menjadi pemicu lahirnya generasi petani muda berbasis kewirausahaan (agripreneur) yang siap mengubah wajah pertanian Indonesia menjadi lebih modern, efektif, dan menyejahterakan.*( Iwan Rahmat)*