CATATAN, KABARPEMUDA.id – Di panggung politik kontemporer yang kian didikte oleh kecepatan algoritma, batas antara analisis substantif dan spekulasi provokatif kian kabur. Fenomena ini tampak jelas tatkala mantan pejabat BUMN, Said Didu mengembuskan istilah “Poros SSB” (Singapura, Solo, Bandung) yang diselimuti wacana konspiratif mengenai bayang-bayang “kudeta senyap” terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Namun, jika dikuliti secara kritis, penulis menilai narasi gembung ini tak lebih dari bangunan konspirasi tanpa fondasi pembuktian empiris yang rapuh dan sengaja diproduksi demi panggung popularitas semata.
Lontaran tuduhan tersebut sejatinya menggambarkan bentuk management of conflict tanpa dasar sebuah strategi komunikasi politik yang berupaya menciptakan persepsi ancaman fiktif untuk memicu kepanikan serta mengarahkan opini publik melalui politics of fear. Menurut penilaian penulis, publik seolah dihipnotis oleh paranoia ketimbang disajikan pendidikan politik yang mencerahkan dan berbasis data.
Lebih jauh, penulis menganggap aksi-aksi provokatif yang dilancarkan Said Didu tak bisa dilepaskan dari rekam jejaknya. Dalam pandangan penulis, muncul dugaan kuat bahwa gelombang narasi destruktif ini berakar dari rekam jejak sebagai bagian dari kelompok yang kecewa pasca-pemecatan dirinya dari jabatan Sekretaris Kementerian BUMN pada era pemerintahan Joko Widodo.
Ketidakmampuan memisahkan kekecewaan personal dari diskursus publik disinyalir mendorongnya terus menyebarkan agitasi. Bahkan, intensitas narasi yang berpotensi memecah belah keutuhan bangsa ini mengundang kecurigaan publik bahwa manuver Said Didu tidak bergerak secara independen, melainkan bermuatan agenda dan kepentingan politik luar yang menginginkan retaknya stabilitas nasional.
Ketegangan konspiratif yang dibangun Said Didu seketika luluh tatkala Dedi Mulyadi (KDM) meresponsnya tidak dengan amarah politik, melainkan gelak tawa dan seloroh yang menohok:
Dekonstruksi Makna “SSB”: KDM membumikan istilah SSB menjadi Sekolah Sepak Bola sebuah wujud pembinaan nyata generasi muda di lapangan sosial, jauh dari tuduhan intrik ruang gelap Singapura atau Solo.
Plesetan “Kudeta”: KDM menyentil istilah kudeta menjadi “Kudu Diteang” (bahasa Sunda untuk “harus didatangi dan diselesaikan masalah rakyatnya”), sebuah bentuk dekonstruksi retoris terhadap gaya politik elite yang gemar memproduksi ketakutan abstrak.
Bantahan Motif Material: KDM menepis keras tuduhan bahwa pergerakan politiknya didasari oleh motif materi, menegaskan bahwa kerja sosialnya murni berorientasi pada pelayanan masyarakat.
Bantahan terukur dan santai dari Dedi Mulyadi membuktikan bahwa narasi provokatif yang dibangun di atas fondasi kebencian dan kepentingan terselubung akan runtuh dengan sendirinya ketika dihadapkan pada logika sehat.
Melihat polemik ini, penulis memberanikan diri mengajukan sebuah usulan kelakar namun konstruktif: apakah tidak sebaiknya Said Didu ditunjuk saja menjadi pelatih Sekolah Sepak Bola (SSB) dengan nama SSB “Ciwaru”? Penulis menganggap, jika dilihat dari postur dan gestur tubuh Said Didu, tampaknya beliau masih sangat memadai dan cocok untuk turun ke lapangan mengolah si kulit bundar.
Daripada energi dan waktunya dihabiskan untuk merangkai konspirasi politik abstrak, melatih anak-anak muda berlari dan bertanding di lapangan tentu jauh lebih menyehatkan dan bermanfaat nyata bagi masyarakat.
Pada akhirnya, penulis menilai wacana “SSB” versi Said Didu menjadi pelajaran berharga bagi dinamika demokrasi digital. Penulis beranggapan bahwa tidak semua suara nyaring di ruang siar memiliki kebenaran substantif di alam nyata, dan keutuhan negara tidak boleh dikorbankan demi ambisi pribadi, kekecewaan masa lalu, maupun dorongan geopolitik luar.***
Penulis : Teguh Safary





