CATATAN,KABARPEMUDA.id — Di balik helai-helai sejarah yang kusam oleh waktu, ada nama-nama yang menolak padam dari ingatan publik. Salah satunya adalah Wiji Thukul, penyair kerakyatan yang bait-bait puisinya pernah menggentarkan pilar-pilar kekuasaan Orde Baru. Sebuah unggahan visual yang beredar di media sosial kembali memantik memori kolektif bangsa lewat untaian kalimat lugas namun menikam: “Selamat Ulang Tahun, Wiji Thukul, Yang Tak Pernah Kembali.”
Unggahan tersebut menampilkan reka sosok sang penyair diproyeksikan melalui keaktoran mendiang Gunawan Maryanto dalam film biografis Istirahatlah Kata-Kata (2016). Namun, substansi mendalam dari narasi singkat itu jauh melampaui seremonial ulang tahun biasa. Ia adalah sebuah monumen ingatan, manifestasi perlawanan terhadap amnesia sejarah, sekaligus gugatan sunyi atas keadilan yang tak kunjung usai.
Suara Rakyat dan Misteri yang Belum Terkuak
Lahir pada 23 Agustus 1963 di Surakarta, Wiji Thukul bukan sekadar penyair yang merangkai kata di atas kertas. Ia membakar kesadaran kaum buruh dan rakyat kecil melalui diksi-diksi yang jujur dan tajam. Frasa legendarisnya, “hanya ada satu kata: lawan!”, hingga hari ini tetap menjadi ritus pemicu keberanian dalam tiap gerakan sosial di Tanah Air.
Namun, keberanian itu harus dibayar mahal. Klausa “Yang Tak Pernah Kembali” menjadi penegas tragedi kelam dalam sejarah modern Indonesia. Thukul hilang ditelan kabut represif masa transisi Reformasi 1997–1998, menjadi satu dari belasan aktivis pro-demokrasi yang diculik dan tak pernah ditemukan jejaknya hingga kini.
Menagih Utang Sejarah
Penggunaan kalimat peringatan ini membawa pesan kuat bagi lintas generasi. Ia menegaskan bahwa kendati raganya dihilangkan secara paksa, gema pemikirannya menolak untuk dibungkam.
Larik sederhana tersebut pada hakikatnya adalah penegasan moral: bahwa selama negara belum menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat dan memberikan kepastian hukum bagi para korban penghilangan paksa, selama itu pula bayang-bayang Wiji Thukul akan terus hadir menagih janji keadilan.***
Penulis: Teguh S





