KABARPEMUDA.id — Delapan puluh satu tahun setelah lonceng kemerdekaan dibunyikan, substansi atas kebebasan bangsa ini terus dirawat. Di balik gegap gempita seremoni tahunan, harapan besar terus dititipkan oleh masyarakat: penguatan ekonomi, akses pendidikan yang luas, serta peningkatan kesejahteraan. Momentum HUT ke-81 Republik Indonesia pun menjadi panggung evaluasi produktif bagi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sumedang.
Ketua Baznas Sumedang, H. Ayi Subhan Hafas, S.H., M.M., menegaskan bahwa bangsa ini membutuhkan “proklamasi babak kedua.” Menurutnya, kemerdekaan sejati tak boleh berhenti pada deretan bendera yang berkibar atau barisan upacara yang presisi, melainkan harus mewujud dalam keadilan sosial yang nyata bagi mereka yang masih berharap dan membutuhkan uluran tangan.
Tiga Pijakan Evaluasi
Menatap perayaan kemerdekaan tahun ini, H.Ayi merangkum tiga fondasi utama yang menjadi pijakan refleksi lembaga yang dipimpinnya:
Rahmat Kemerdekaan: Warisan historis perjuangan para pahlawan yang wajib diisi dengan kerja nyata.
Payung Hukum Kokoh: Kehadiran regulasi nasional yang melegitimasikan tata kelola zakat secara kontemporer.
Kesadaran Publik: Tren positif partisipasi masyarakat dalam menunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang terus meningkat.
Namun, H.Ayi memberi catatan tebal: tingginya angka pengumpulan dana bukanlah piala kemenangan. Tolak ukur utamanya adalah sejauh mana dana umat tersebut mampu menjawab tumpuan harapan dan kebutuhan masyarakat rentan.
Rekonstruksi Paradigma: Dari Karitas Menuju Pemberdayaan
Guna menjawab tingginya harapan tersebut, Baznas Sumedang mendesak adanya pergeseran cara pandang dalam mengelola zakat. Bantuan yang bersifat konsumtif atau karitas kian dikurangi porsinya hanya diperuntukkan bagi situasi darurat. Fokus utama kini dialihkan pada strategi pemberdayaan (empowerment) berbasis pendampingan berkelanjutan.
“Masyarakat yang membutuhkan ruang dan alat untuk tumbuh sangat mendambakan kemandirian. Bantuan tidak boleh sekadar menyambung hidup hari ini, tetapi harus menjadi daya dorong agar mereka mandiri dan kelak bertransformasi menjadi muzakki,” tegas Ayi.
Transparansi dan Ekosistem Kolaborasi
Penguatan program pemberdayaan ekonomi dan respons sosial cepat ini dibentengi oleh akuntabilitas tata kelola. Semakin tinggi tingkat penghimpunan ZIS, semakin ketat pula tuntutan transparansi yang harus dipenuhi untuk menjaga kepercayaan publik.
Baznas Sumedang meyakini bahwa pemenuhan harapan masyarakat tidak dapat dilakukan secara soliter. Sinergi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, hingga organisasi kemasyarakatan menjadi kunci utama agar program kemandirian ekonomi tidak berjalan sendiri-sendiri.
Wajah Baru Perjuangan
Jika delapan dekade lalu fokus bangsa ini adalah merebut kemerdekaan, kini medan perjuangan bergeser pada upaya mendampingi saudara-saudara yang masih berharap dan membutuhkan dorongan di bidang ekonomi serta kualitas sumber daya manusia. Makna kemerdekaan baru berhembus sahih ketika anak-anak dari keluarga yang membutuhkan dapat mengakses sekolah berkualitas dan para pelaku usaha kecil memperoleh kesempatan untuk berdikari. Bagi Baznas Sumedang, zakat adalah sarana strategis untuk mewujudkan harapan tersebut.***
