Pemdes Arjasari Berdayakan Warga Kelola Sampah Organik dan Budidaya Maggot

Istimewa

KABARPEMUDA.id – Masyarakat Desa Arjasari Kecamatan Patrol Kabupaten Indramayu, hingga saat ini telah melakukan pengolahan sampah organik menggunakan konsep pengomposan.

Namun, praktik pengolahan sampah tersebut tidak dipraktekkan secara berkelanjutan, karena proses pengomposan sampah organik yang membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi produk yang bisa dimanfaatkan.

Bacaan Lainnya

Pengetahuan masyarakat Desa Arjasari tentang pengelolaan sampah organik masih terbatas.

Pengabdian masyarakat ini bertujuan mengenalkan penggunaan maggot Black Soldier Fly (BSF) yang digunakan dalam pengolahan sampah organik dan menumbuhkan minat masyarakat desa dalam pengolahan sampah organik menggunakan maggot BSF.

Menurut Kepala Desa Arjasari, Jamaludin, Limbah organik sebagai aset bagi ekonomi sirkular, seringkali menemui kendala karena tidak semua sampah dapat didaur ulang dengan nilai ekonomi yang tinggi.

Namun, sampah organik jarang dilirik karena bernilai ekonomi rendah. Pengolahan sampah organik biasanya hanya berujung menjadi pupuk kompos yang harga jualnya rendah.

Selain itu masih dianggap sebagai problem hingga saat ini. Pada lingkungan perkotaan yang padat, sampah organik memicu bau menyengat karena proses pembusukan yang membentuk air lindi.

Kondisi ini belum diimbangi dengan pengetahuan dan kesadaran yang memadai untuk mengolah potensi sampah organik rumah tangga.

jika komponen organiknya bisa dikonversi menjadi produk yang memiliki nilai tambah bagi petani dan peternak. Tentunya ini merupakan potensi yang luar biasa.

Bio konversi limbah rumah tangga menjadi media untuk produksi pakan alternatif, seperti maggot.

Karenanya maggot juga mengandung komponen aditif yang dapat meningkatkan kadar nutrisi, terutama dari sampah organik berupa meat bone meal (MBM). MBM banyak digunakan untuk ransum atau bahan penyusun pakan hewan ternak.

Maggot yang merupakan larva dari lalat buah dari jenis Black Soldier Fly (BSF) adalah komponen yang dapat digunakan untuk substitusi MBM.

Maggot memenuhi syarat sebagai pakan ternak dan hewan karena komposisi nutrisi terpenuhi, harga bersaing, dan ketersediaan banyak, Produksi maggot juga cepat.

Satu ekor lalat BSF dapat menghasilkan 500 maggot dalam sekali reproduksi. BSF juga bukan serangga vektor penyakit, sehingga aman.

Sebagai upaya Pemulihan Ekonomi, Pemerintah Desa juga berkomitmen menjadikannya lebih baik lagi.

Salah satu upaya memenuhi komitmen tersebut adalah dengan transformasi ekonomi ke arah yang lebih hijau atau ekonomi sirkular.

Kepala Desa, Jamaluddin mengatakan, perekonomian dan perindustrian bukan lagi sekedar tentang bagaimana mengelola bahan baku menjadi bahan jadi untuk dikonsumsi, melainkan model ekonomi.

“Yang di mana produksi dan konsumsi tidak membahayakan lingkungan, karena berfokus pada perbaikan, penggunaan kembali, pembuatan ulang, dan daur ulang, sehingga mengurangi produksi limbah dan penggunaan sumber daya atau yang biasa disebut Ekonomi Sirkular,” ujar Jamaludin, pada Sabtu ( 23/12/2023 ).

Dijelaskan, Ekonomi sirkular merupakan pendekatan sistem ekonomi melingkar dengan memaksimalkan kegunaan dan nilai tambah dari suatu bahan mentah, komponen, dan produk.

Sehingga mampu mereduksi jumlah bahan sisa yang tidak digunakan dan dibuang ke tempat pembuangan akhir. Untuk penerapannya sendiri dapat mendorong pertumbuhan ekonomi hijau yang lebih tinggi.

“Ekonomi sirkular bukan hanya mengenai pengelolaan limbah tetapi juga bagaimana melakukan desain bahan baku, desain produk, serta proses produksi sehingga bahan baku dan produk yang dihasilkan dapat didaur ulang dan memiliki siklus penggunaan yang lebih panjang,” pungkas Jamaludin. (Uri Damuri)***

Pos terkait