KABARPEMUDA.ID – Tradisi Mapag Sri menyambut musim panen, sebagai wujud rasa syukur para petani kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang melimpah.
Kata Mapag dalam bahasa Jawa halus berarti menjemput, sedangkan Sri merujuk pada Dewi Sri, dewi kesuburan dan padi dalam mitologi Jawa. Mapag Sri bisa diartikan sebagai menjemput Dewi Padi.
Prosesi upacara Mapag Sri melibatkan berbagai ritual, termasuk tarian, doa-doa, dan penyajian makanan tradisional, yang dibawa ke sawah. Sebagai bentuk rasa syukur, para petani mengantarkan sesaji ke sawah-sawah mereka.
Sesaji ini bisa berupa hasil bumi. Prosesi ini menjadi wujud penghormatan kepada alam dan usaha yang telah dilakukan selama musim tanam.
Selain itu, Mapag Sri juga menjadi ajang untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan alam.
Halnya didesa Tegaltaman Kecamatan Sukra Kabupaten Indramayu, menggelar tradisi mapag Sri dan antusias warga menyambutnya dengan suka cita.
Kuwu Desa Sukra Wetan Kuswandi mengatakan, tidak semua desa dapat melaksanakan upacara ini setiap tahun.
Faktor cuaca, kondisi ekonomi, hingga hasil panen yang kurang memadai bisa menjadi alasan mengapa Mapag Sri tidak dapat dilakukan.
Namun, ketika panen berhasil dan hasilnya melimpah, Mapag Sri akan menjadi sebuah pesta rakyat yang penuh kegembiraan dan rasa syukur.
“Tradisi Mapag Sri sejatinya merupakan salah satu wujud dari rasa syukur masyarakat petani terhadap berkah yang mereka terima. Dalam pelaksanaannya, banyak nilai-nilai kehidupan yang diajarkan, seperti kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur kepada Sang Pencipta,” ujar Kuswandi, Senin (19/5/2025).
Tradisi ini juga bisa dilihat sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Seiring perkembangan zaman, upacara ini telah mengalami berbagai penyesuaian, tetapi esensi dan maknanya tetap terjaga.
Dalam banyak komunitas, tradisi Mapag Sri masih menjadi ajang untuk mempererat hubungan antar warga dan memperkuat identitas budaya lokal. (Uri Damuri)***





