BANDUNG, KABARPEMUDA.id — Penanganan kesehatan mental di Indonesia kini resmi memasuki babak baru yang lebih humanis dan menyeluruh. Paradigma medis modern menegaskan bahwa proses pemulihan disabilitas mental tak lagi sebatas bergantung pada intervensi farmakoterapi semata, melainkan menuntut integrasi harmonis antara dimensi psikologis, sosial, dan spiritual.
Pendekatan terpadu berbasis bio-psiko-sosio-spiritual ini menempatkan setiap individu sebagai satu kesatuan utuh menjadikan nilai-nilai spiritualitas sebagai fondasi batin yang merawat kualitas hidup, menumbuhkan optimisme, serta membimbing para penyintas untuk meresapi kembali makna hidup dan kembali berdaya di tengah masyarakat.
Langkah transformatif ini mengemuka secara kuat dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung pada Rabu (23/9/2026). Mengusung wacana segar dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial, forum ilmiah yang dihadiri oleh para akademisi, praktisi, dan mahasiswa ini menghadirkan Ecek Karyana sebagai salah satu narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Ecek Karyana membagikan rekam jejak serta pengalaman praktis penerapan chaplaincy sebuah model pendampingan holistik yang menyelaraskan aspek emosional, nilai kemanusiaan, dan spiritualitas.
Melalui praktik terbaik yang telah ia dedikasikan di Yayasan Anugrah Barokah Bhakti, Ecek memperlihatkan bagaimana pendekatan berdimensi keagamaan dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat yang tengah mengalami krisis kehidupan maupun gangguan mental.
“Pendampingan spiritual bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari upaya memulihkan martabat dan kesejahteraan emosional penerima manfaat,” ujar Ecek Karyana.
Kehadiran Ecek Karyana dengan gagasannya menjadi cerminan sosok pembawa perubahan (agent of change) di bidang pendampingan sosial. Melalui rekam jejaknya, ia membuktikan bahwa sentuhan empati dan pendampingan batin yang inklusif mampu memperkuat resiliensi serta mengembalikan fungsi sosial para penerima manfaat secara berkelanjutan.
Momentum seminar nasional ini diharapkan dapat memperkaya khazanah wawasan para pemangku kepentingan, sekaligus memicu lahirnya inovasi pendampingan sosial di Indonesia yang tidak hanya profesional, tetapi juga berdaya guna, empati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.***





