KABARPEMUDA.id – Kecamatan Majalaya adalah salah satu daerah yang pernah menjadi pusat perekonomian Indonesia, hingga terkenal dengan julukan kota dollar pada saat itu.
Mengutip dari media kompas.com bahwa julukan tersebut karena Majalaya pernah berjaya sebagai sentra industri tekstil yang sukses di tanah air dengan produk tekstil yang dihasilkan berupa sarung khas yang tidak hanya menguasai pasar Indonesia, namun juga berhasil menembus pasar dunia.
Pada masa emasnya sejarah industri tekstil dan produk tekstil di wilayah ini berawal pada pertengahan abad ke-19.
Pada tahun 1942 saat terjadi penjajahan jepang, melarang masuknya impor bahan baku, bahan pewarna, hingga terjadi pengambil alihan semua industri tekstil di Majalaya.
Setelah Indonesia merdeka, Majalaya dijadikan sebagai pusat tekstil nasional untuk memenuhi kebutuhan sandang yang pada waktu itu masih ditopang oleh barang impor.
Karenanya pada masa pasca-kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1960-an, industri tekstil Majalaya sempat bangkit kembali.
Namun sangat disayangkan meski masyarakat majalaya masih ada beberapa orang yang masih memproduksi sarung, tidak bisa seperti dulu lagi hingga julukan kota dollar itu tidak bertahan lama bahkan redup, seakan-akan hanya menjadi catatan sejarah saja.
Pada akhirnya Majalaya kehilangan identitas baiknya, saat ini malah terkenal dengan dengan banyak kasus kriminalitasnya.
Salah satu pemuda asal Majalaya, Wildan keluhkan hal itu, melihat aktivitas para pemuda saat ini di Majalaya tidak sedikit cenderung negatif.
Keluhan itu disampaikan Wildan saat silaturahmi dan berdiskusi bersama Nuswantara Muda yang bertempat di rumah makan ponyo cinunuk, Selasa (30/01/2024).
Dari diskusi itu, menghasilkan solusi untuk menanggulangi permasalahan yang ada di Majalaya yakni akan menggelar Festival Sarung Majalaya (FSM), yang akan dilaksanakan pada bulan Februari 2024.
Meski Festival tersebut pernah dilakukan sebelumnya, namun FSM ke tiga ini akan memakai konsep yang berbeda, akan dibuat lebih menarik targetnya untuk mengembalikan identitas Majalaya itu sendiri, khususnya dalam bidang perekonomian dan meminimalisir kriminalitas menjadi aktivitas yang bermanfaat.
“Kami akan menggelar Festival Sarung Majalaya part tiga, tujuan besarnya untuk menyadarkan dan menanamkan kembali warga masyarakat Majalaya bahwa mereka memiliki identitas yang mampu berkontribusi besar pada saat itu di tanah air ini,” ujar Bezie Founder Nuswantara Muda.
Ia menyampaikan, masyarakat Majalaya saat ini kehilangan identitasnya maka harus diperbaiki sisi perekonomiannya, dengan digelarnya FSM nanti mudah-mudahan perekonomiannya membaik, serta menjadi sorotan di indonesia hingga luar negeri.
Ikatan Mahasiswa Alumni Pondok Pesantren Al-hikamussalafiyyah (IKMAPPAS) Bandung turut hadir dalam kegiatan silaturahmi tersebut, dan siap akan memberikan kontribusi dalam kegiatan FSM yang akan digelar pada bulan depan.
Rencananya, FSM ini akan bekerjasama dengan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Barat, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI), Kodam III/Slw, Rumah Zakat, BKPRMI Majalaya, dan Universitas ternama diantaranya UPI, Unikom, Telkom University, Tekstil Kriya ITB, STT Tekstil, juga sekolah SMKN Majalaya.
“Mari yang ingin ikut kontribusi dalam kegiatan ini saya tunggu, kita bersama-sama belajar di lapangan untuk melakukan aktivitas yang mudah-mudahan bermanfaat dan ber efek besar bagi masyarakat khususnya Majalaya,” ajak Bezie.
Dalam penutupan diskusi, Bezie menegaskan sebagai warga negara yang baik, kita harus merasa memiliki khususnya NKRI ini, Indonesia ini milik kita, hal itu harus tertanam dalam benak kita sehingga kita sadar penuh rasa cinta dan peduli apa yang terjadi di indonesia ini.





