CATATAN – Pagi itu, angin semilir berembus lembut menyelinap di balik kabut tebal, menyeruak aroma khas dedaunan basah yang gugur menyapa bumi.
Di lembah hijau itu Bumi Perkemahan Kiarapayung sejuta cerita perlahan mulai dirajut seiring fajar yang kian memancar.
Mata penulis menangkap gambaran murni kebahagiaan dari pelbagai rupa kehidupan. Di satu sudut, riak pembentukan karakter terpancar jelas dari kedisiplinan dan tawa anak-anak Pramuka yang tengah menimba pembelajaran hidup.
Sementara di sudut lain, hangatnya akhir pekan bertaut rapat dalam dekapan keluarga. Mereka mengabadikan momen kebersamaan di atas tikar-tikar sederhana, menikmati aneka sajian lokal yang dihidangkan dengan kehangatan tulus oleh si pedagang.
Semakin siang, lanskap Kiarapayung kian berdenyut hidup. Langkah-langkah optimis para penggiat olahraga berpadu harmonis dengan helaan napas lega mereka yang sekadar ingin menepi dari penatnya rutinitas.
Warga berjubel memadati deretan penjaja kuliner sebelum tiba di Kiarapayung, aroma asap bakaran yang khas dan gurihnya sajian lokal menjelma menjadi magnet alami yang sulit ditolak.
Ruang terbuka ini tak lagi sekadar hamparan rumput dan rimbun pepohonan, melainkan panggung sosial tempat antusiasme warga berkelindan dengan denyut ekonomi rakyat.
Geliat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tumbuh subur di sepanjang Jalan menuju Bumi Perkemahan Kiarapayung, bertumpu pada riak tawa anak-anak dan riuh perbincangan anak muda yang asyik nongkrong melepas lelah.
Setiap transaksi kecil, senyum pembeli, dan kepulan asap dari lapak pedagang adalah bukti nyata bagaimana alam yang dirawat dengan bijak mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat dari level yang paling akar.
Kiarapayung bukan sekadar ruang terbuka hijau, melainkan simbol sinergi yang menyejukkan.
Terima kasih kepada para pembuat kebijakan atas visi penataan ruang publik ini, dan terima kasih kepada alam yang telah menyediakan ruang bagi jiwa-jiwa yang ingin bernapas sejenak, melupakan hiruk-pikuk kehidupan, sekaligus merawat asa para penggerak ekonomi kecil. ***
Penulis: Siti Amilah





