Napas Cahaya dan Bayang-bayang Jiwa

CATATAN – Kejujuran dan kebohongan adalah dua cermin yang memantulkan wajah jiwa. Bagi manusia yang berjalan di bawah naungan cahaya Ketuhanan, keduanya tidak akan pernah bersatu, sebab terang dan gelap tidak pernah berteman dalam satu ruangan.

Jujur adalah keselarasan yang murni sebuah simfoni indah di mana apa yang dirasakan hati, diucapkan lidah, dan dilakukan oleh tangan bergerak dalam satu garis lurus yang luhur. Ia adalah kedamaian yang tidak membutuhkan topeng.

Sebaliknya, kebohongan adalah labirin tanpa ujung. Sekali seseorang melangkah ke dalamnya, ia menjerat dirinya dalam rantai tak kasat mata. Satu kebohongan menuntut kebohongan berikutnya untuk bertahan hidup, mencipta lingkaran setan yang makin melilit.

Demi menjaga kepalsuan agar tidak runtuh, ia kerap memohon pada tipu daya yang lebih besar, menghalalkan segala cara, hingga nuraninya perlahan redup dan membatu.

Namun, ketahuilah, sejauh apa pun kebohongan berlari dan setebal apa pun tabir yang menutupinya, ia senantiasa berjalan di atas tanah yang retak. Di bawah genggaman Kekuasaan Yang Mahakuasa, kebenaran tidak pernah benar-benar tidur.

Seperti benih yang terhimpit batu di kegelapan bumi, kebenaran akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk menembus kegelapan, mekar merekah, dan menyibak kebohongan hingga terang benderang.

Kepingan Falsafah Jiwa: Jalan Cahaya dan Bayang-Bayang

“Barangsiapa menanam kejujuran, ia sedang membangun rumah dari batu karang yang tak tergoyahkan oleh badai. Namun barangsiapa merajut kebohongan, ia sedang menenun benang racun yang pada akhirnya akan menjerat lehernya sendiri.”

Kebenaran tidak membutuhkan pengawal yang riuh untuk membuktikannya ada; ia tenang karena ia abadi. Kebohongan, sebaliknya, membutuhkan ribuan prajurit berupa kepalsuan baru hanya untuk berdiri satu hari lagi. Namun, di hadapan takdir Tuhan, waktu adalah hakim yang paling jujur.

Sepandai-pandainya tangan manusia menggenggam lumpur kebohongan, air kebenaran akan selalu mengalir membersihkannya, mengembalikan segala sesuatu pada hakikatnya yang murni.

Renungan pagi, ditemani secangkir kopi.!!.***

(Opah Abdullah)

Pos terkait