Ketua BAZNAS Sumedang: Spirit Sumpah Pemuda Harus Bertransformasi Menjadi Solidaritas Sosial

SUMEDANG,KABARPEMUDA.id — Peringatan Sumpah Pemuda tidak boleh sekadar menjelma seremonial rutinitas untuk mengenang lembaran sejarah 28 Oktober 1928 semata. Lebih dari itu, marwah persatuan, spirit gotong royong, dan kepedulian sosial yang diwariskan para pendahulu bangsa dituntut untuk bertransformasi menjadi aksi nyata yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut ditegaskan Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sumedang, H. Ayi Subhan Hafas, melalui unggahan status WhatsApp pribadinya pada Rabu (28/10/2026).

Bacaan Lainnya

Ayi menilai, nilai-nilai kebangsaan yang digelorakan hampir seabad lalu itu masih sangat relevan untuk menjawab benteng persoalan krusial hari ini, khususnya terkait pengentasan kemiskinan dan penyempitan kesenjangan sosial di tengah masyarakat.

“Semangat Sumpah Pemuda mengajarkan kita pentingnya persatuan dan gotong royong. Nilai-nilai tersebut harus terus kita hidupkan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan. Dalam konteks ini, zakat, infak, dan sedekah menjadi instrumen strategis untuk memperkuat solidaritas sosial sekaligus menopang peningkatan kesejahteraan umat,” tulis Ayi.

Dalam arsitektur pembangunan kesejahteraan daerah, BAZNAS memegang peran vital untuk memastikan pengelolaan dana sosial keagamaan berjalan akuntabel, tepat sasaran, serta berdaya guna. Penyaluran zakat, infak, dan sedekah tidak lagi sebatas karitatif, melainkan diarahkan pada program-program pemberdayaan ekonomi berkelanjutan.

Oleh karena itu, Ayi secara khusus menyoroti peran sentral generasi muda sebagai agent of change dalam membangun budaya berbagi. Pemuda tidak hanya dituntut menjadi ahli waris cita-cita proklamasi, tetapi juga motor penggerak aksi kemanusiaan dan edukasi publik.

Di era disrupsi teknologi dan pesatnya arus informasi, pemuda diharapkan mampu mengolaborasi literasi digital untuk memperluas jangkauan edukasi zakat serta mengoptimalkan kanal-kanal filantropi berbasis teknologi.

“Refleksi Sumpah Pemuda menegaskan bahwa persatuan tidak berhenti pada batas ikrar kata-kata, melainkan terwujud dalam tatanan tindakan yang manfaatnya dirasakan nyata oleh publik. Sinergitas kolektif antara pemuda, lembaga sosial, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat adalah kunci utama merajut solidaritas dan mendorong kemandirian bersama,” tambahnya.

Momentum Sumpah Pemuda pun menjadi panggilan kesadaran bersama bahwa spirit kebangsaan senantiasa hidup dan bertumbuh melalui kerja nyata, empati sosial, serta komitmen untuk hadir bagi sesama. ***

Pos terkait