Merobek Nurani Kemanusiaan: Sandiwara Berdarah di Balik Tangis Palsu Sang Ayah

Fhoto: Istimewa

CATATAN – Di sudut sunyi Kelurahan Seringgu Jaya, Merauke, Papua Selatan, sebuah tragedi membekukan nurani siapa pun yang memiliki rasa kemanusiaan. Julia Risky Ramadiana, bocah perempuan berusia 11 tahun yang menjalani hari-harinya dalam keterbatasan disabilitas, harus menyongsong akhir hidup yang paling kelam. Bukan karena takdir penyakit, melainkan di tangan sosok yang seharusnya menjadi benteng terkuat pelindungnya: ayah kandungnya sendiri, MRP alias Maulana.

Membayangkan detik-detik terakhir yang dilalui Julia adalah menelusuri lorong ketakutan yang teramat pekat. Pada 27 Oktober 2025, di saat jemari kecilnya membutuhkan dekap hangat, yang ia terima justru kebiadaban tak terperikan. Nyawanya direnggut secara brutal, jasadnya dicampakkan ke rimbun semak-semak yang hanya berjarak 100 meter dari rumahnya tanpa rasa iba sedikit pun. Di mana akal sehat dan nurani seorang manusia ketika jemarinya tega menghabisi darah daging sendiri?

Kejahatan itu tak berhenti pada tumpahnya darah sang anak. Sebuah sandiwara berdarah dimainkan tanpa cela. Pelaku merancang narasi palsu, menuduh Orang Tak Dikenal (OTK) melakukan penculikan dan pencurian. Dengan wajah tanpa dosa dan air mata buaya, ia tampil di publik, berpidato mengucapkan terima kasih, dan menangis terisak demi memancing rasa simpati masyarakat. Sungguh ironi yang memudarkan batas antara manusia dan iblis: ia mengulurkan tangan menerima bantuan dan uang santunan duka, memberi makan dirinya sendiri dari belasungkawa atas jasad anaknya yang membeku.

Namun, bangkai yang disembunyikan rapat akhirnya tercium juga. Pada 19 Agustus 2026, Kepolisian Resor (Polres) Merauke meruntuhkan tabir kepalsuan itu dan resmi menetapkan Maulana sebagai tersangka utama berkat rekatan bukti yang tak tersanggahkan.

Penjara bukanlah tempat penyesalan baginya, melainkan awal dari penghakiman atas kebiadaban yang dipamerkan kepada dunia. Pelaku tidak hanya membunuh Julia, tetapi juga merobek nurani kemanusiaan secara keseluruhan. Kini, Julia telah tenang di pangkuan Keabadian jauh dari rasa sakit, ketakutan, dan pengkhianatan sosok yang dipanggilnya ayah. Untuk kejahatan sedingin dan sekeji ini, tak ada ruang maaf; hanya hukuman maksimal hingga pidana mati yang pantas menjadi titik akhir bagi monster berwajah manusia.***

Penulis: Teguh Safary

Pos terkait