‘Moal Poho Kana Sajadah Diri’: Benteng Loyalitas KDM di Tengah Badai Survei

CATATAN — Jagat politik nasional tengah dihebohkan oleh rilis temuan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 5–19 Juli 2026. Dalam rilis bertajuk “Elektabilitas Calon-Calon Presiden”, angka keterpilihan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) secara mengejutkan melampaui Presiden petahana Prabowo Subianto.

Pada simulasi semi-terbuka dengan 20 nama calon, KDM bertengger di posisi teratas dengan raihan 35 persen, sementara Prabowo berada di posisi kedua dengan 14,5 persen. Dalam simulasi pertarungan langsung (head-to-head), KDM tercatat meraih 59 persen berbanding 28,3 persen untuk Prabowo.

Namun, lonjakan angka ini tak sepi dari kontroversi. Sejumlah pihak mempertanyakan netralitas serta objektivitas riset SMRC. Tudingan ini mengemuka mengingat rekam jejak pernyataan pendiri SMRC, Saiful Mujani, yang dalam beberapa waktu terakhir melontarkan sikap kritis serta ketidakpuasannya terhadap efektivitas pemerintahan saat ini.

Angka yang dirilis SMRC patut diduga sarat akan muatan subjektif dan diproyeksikan sebagai operasi media framing. Rilis tersebut dicurigai sebagai upaya rekayasa opini publik untuk membenturkan figur Presiden Prabowo Subianto dengan KDM dua politisi yang selama ini dikenal berada dalam perahu politik yang sama.

Di luar polemik metodologi riset, gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi memang menciptakan gelombang populisme tersendiri. Berbeda dari mayoritas kepala daerah yang membatasi atensi pada batas administratif provinsi, KDM secara agresif menerapkan model kepemimpinan “melintas batas wilayah” melalui aksi nyata yang terdokumentasi luas:

Turun langsung memberikan bantuan finansial dan logistik bagi korban bencana alam di Sumatra.

Memberikan pendampingan hukum dan bantuan terbuka kepada keluarga korban aksi main hakim sendiri di Tabanan, Bali, terkait dugaan pencurian ayam.

Mengemas aksi blusukan dan pemecahan masalah sosial menjadi konten digital yang masif, sehingga membangun likeability (tingkat kesukaan) tinggi di tingkat nasional.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menyebut penurunan elektabilitas petahana berjalan seiring dengan dinamika evaluasi publik terhadap isu ekonomi, penegakan hukum, serta implementasi program-program prioritas pemerintah pusat. Pertemuan antara pergeseran sentimen publik dan agresivitas personal branding humanis KDM di media sosial pada akhirnya bermuara pada dinamika survei ini.

Meski demikian, dugaan upaya membenturkan sosok Prabowo Subianto dan Dedi Mulyadi dipastikan tidak akan membuahkan hasil. Karakter KDM bukanlah tipe figur politik “kacang yang lupa akan kulitnya”.

Sebagai orang Sunda tulen, KDM memegang teguh filsafat hidup untuk tidak pernah poho kana sajadah diri sebuah kesadaran etis untuk tidak melupakan tempat berpijak, asal-usul, serta komitmen moral dan kesetiaan politik terhadap sosok yang turut membesarkan rekam jejaknya.

“Upaya dugaan membenturkan Prabowo dan KDM adalah kalkulasi politik yang keliru. Sebagai orang Sunda tulen, KDM memegang teguh falsafah moal poho kana sajadah diri kesadaran etis untuk tidak pernah melupakan komitmen kesetiaan.”

Memang benar bahwa dalam politik tidak ada yang tidak mungkin, termasuk peluang KDM melangkah ke Kontestasi Pilpres 2029. Namun, skenario tersebut hanya mungkin terjadi apabila Prabowo Subianto secara sukarela memutuskan untuk tidak lagi maju kembali di 2029.

Selama Prabowo masih bersiap melanjutkan pengabdiannya, Dedi Mulyadi dipastikan akan tetap berdiri sebagai mitra strategis yang loyal, bukan rival yang menggunting dalam lipatan. Angka survei boleh saja dimanfaatkan untuk membingkai narasi adu domba, namun etika politik dan nilai kebudayaan akan tetap menjadi benteng pemenang dalam realitas politik yang sesungguhnya.***

Penulis : Teguh Safary (WNI)

Pos terkait