
Euforia kemenangan tim Bhatara United setelah menumbangkan Trio Jatinangor seketika sirna, berganti menjadi kekecewaan mendalam akibat dugaan kelalaian fatal panitia penyelenggara. Kejadian ini pun mendadak tular (viral) di media sosial dan menuai sorotan tajam warganet setelah rekaman ketegangan di area stadion beredar luas.
Seusai peluit panjang berbunyi, tidak ada selebrasi pengalungan medali maupun penyerahan uang pembinaan sebagaimana mestinya turnamen resmi usungan PSSI. Para atlet muda yang telah bertanding habis-habisan terpaksa gigit jari. Berjam-jam lamanya para pemain bersama orang tua mereka tertahan di area stadion, menanti kepastian hak yang tak kunjung diberikan.
Rasa bangga para pesepak bola muda lenyap seketika, tergilas rasa bingung dan kecewa lantaran tak satu pun medali mampir di dada mereka. Sejumlah orang tua pemain dan official tim menilai penyelenggaraan tahun ini mengalami kemunduran drastis dibanding edisi sebelumnya.
“Anak-anak bertanding mati-matian di lapangan, meneteskan keringat untuk mengejar cita-cita mereka. Tapi begitu peluit akhir berbunyi, mereka dihargai dengan ketidakjelasan. Medali tidak ada, uang pembinaan nihil. Kami sudah menunggu berjam-jam di sini!” ungkap salah seorang orang tua pemain dengan nada getir dan kecewa.
Suasana Stadion Ahmad Yani sempat memanas sewaktu gelombang protes dari para orang tua mendatangi panitia penyelenggara untuk menuntut penjelasan. Bukan tanpa alasan, kompetisi ini bukan ajang antarkampung (tarkam) gratisan. Setiap tim peserta tercatat telah memenuhi seluruh kewajiban administrasi dan biaya pendaftaran.
Kericuhan pasca-laga ini makin memperkuat dugaan bobroknya profesionalisme serta manajemen Askab PSSI Sumedang dalam mengelola turnamen resmi pembinaan bakat muda. Ketika para atlet cilik dituntut menjunjung tinggi sportivitas di lapangan, jajaran pengurus justru dinilai mempertontonkan kegagalan manajerial yang mencoreng wajah sepak bola Sumedang. Insiden ini kini menjadi catatan hitam yang menuntut evaluasi dan pertanggungjawaban total dari pengurus federasi setempat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Panitia Penyelenggara maupun jajaran pengurus Askab PSSI Sumedang belum sempat dikonfirmasi untuk memberikan klarifikasi resmi terkait alasan tidak diserahkannya hadiah serta penjelasannya atas gelombang protes tersebut.***