Ayam, Keadilan yang Terbakar, dan Air Mata yang Tak Paham

CATATAN – Di keheningan dini hari Juwuk Legi, Tabanan Bali, kepulan asap tidak hanya membubung dari sepeda motor yang hangus dibakar massa. Di tempat yang sama, nurani kita sebagai sebuah bangsa ikut terbakar menjadi abu. Jum’at (24/7)

Seorang anak kecil berdiri di tengah kerumunan. Dengan mata sembab dan suara yang bergetar, ia terus memanggil, “Bapak… Bapak…” Suara mungil itu berusaha menembus dinginnya malam, memanggil sosok yang kini terbaring kaku tak bernyawa. Anak itu belum sepenuhnya paham bahwa panggilannya tak akan pernah lagi bersambut. Ia tidak tahu bahwa dalam hitungan menit, amarah massa telah merenggut satu-satunya pilar dunia yang ia miliki.

Tragedi ini bermula dari hal yang begitu rapuh: dugaan pencurian ayam.

Di tengah himpitan ekonomi bangsa yang kian mencekik di mana harga-harga kebutuhan pokok terus melambung, lapangan kerja kian menyempit, dan rakyat kecil dipaksa bertahan hidup di ujung tanduk sekeor ayam bisa menjadi penentu antara perut yang terisi atau rasa lapar yang menggerogoti. Kita tidak pernah membenarkan tindakan mencuri. Namun, haruskah nyawa melayang dan masa depan seorang anak dihancurkan hanya demi seekor ayam?

Dua Wajah Keadilan
Ketika membaca kisah ini, hati kita tersayat oleh ironi hukum yang telanjang di depan mata:

Bagi Rakyat Kecil: Hukum bekerja dengan amat cepat, brutal, dan tanpa ampun. Sang tuduhan bahkan sebelum terbukti di hadapan hakim langsung dijatuhi hukuman mati di jalanan oleh amuk massa. Nyawa melayang, harta dibakar, dan keluarga yang ditinggalkan menanggung duka sepanjang hayat.

Bagi Para Koruptor Triliunan: Hukum diduga mendadak menjadi begitu ramah, sopan, dan penuh pertimbangan. Mereka yang menggerogoti uang negara hingga triliunan rupiah uang yang seharusnya bisa menyejahterakan rakyat, memberikan pendidikan gratis, dan menghapus kemiskinan sering kali masih bisa tersenyum di depan kamera. Mereka menempati sel-sel ber-AC, mendapatkan potongan masa tahanan, dan tetap menyimpan kekayaan yang tak habis tujuh turunan.

Betapa murahnya harga nyawa rakyat kecil di mata hukum jalanan, dan betapa mewahnya pengampunan bagi para perampok uang rakyat di panggung kekuasaan.

Anak kecil di Tabanan itu tidak paham tentang istilah ekonomi makro, korupsi sistemik, atau restoratif justice. Yang ia tahu, ayahnya kini telah pergi secara tragis. Tangisannya adalah tamparan keras bagi kita semua bahwa ada yang sangat rusak dalam cara kita bermasyarakat dan bernegara.

Ketika hukum formal dirasa lambat atau tak berpihak, rakyat kecil kerap mengeksekusi amarahnya kepada sesama rakyat kecil. Sementara itu, para elite yang mencuri masa depan bangsa ini justru melenggang bebas di atas penderitaan jutaan orang.

Suara “Bapak… Bapak…” malam itu bukan sekadar tangisan anak kehilangan orang tua. Itu adalah jeritan jiwa yang menagih keadilan universal. Keadilan yang tidak boleh tumpul ke atas dan mematikan ke bawah. Keadilan yang seharusnya melindungi mereka yang lemah, bukan malah menghabiskan sisa-sisa kemanusiaan yang kita miliki.***

Penulis : Teguh Safary

Pos terkait