Di Hadapan Presiden Prabowo, Ulama Kharismatik Sumedang Bacakan Risalah Kemaslahatan Umat Hasil Ijtima’ Ulama

 KABARPEMUDA.id ,Jakarta — Peringatan Hari Lahir (Harlah) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC) berlangsung khidmat dan penuh kesejukan. Ulama kharismatik asal Sumedang, Abuya Prof. Dr. (H.C.) KH. Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi, M.A., secara resmi membacakan risalah keputusan dan rekomendasi hasil Ijtima’ Ulama langsung di hadapan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Momentum bersejarah tersebut menjadi simbol nyata eratnya sinergi antara ulama (pemimpin agama) dan umara (pemerintah) dalam merawat serta mengawal arah pembangunan nasional.

Bacaan Lainnya

Abuya KH. Muhammad Muhyiddin dikenal luas di kalangan Nahdliyin dan masyarakat Jawa Barat sebagai Pimpinan Umum Pondok Pesantren Islam Internasional Terpadu Asy-Syifaa Wal Mahmuudiyyah, Sumedang. Dalam kiprah dakwahnya, beliau konsisten mengusung narasi kebangsaan yang menyejukkan berfokus pada penanaman rasa cinta (mahabbah) kepada Rasulullah SAW, penyucian jiwa, serta persatuan tanah air.

Di hadapan Presiden Prabowo dan para tokoh nasional, Abuya menegaskan bahwa forum Ijtima’ Ulama merupakan manifestasi kepedulian tulus para kiai dan pengasuh pesantren demi kemajuan Indonesia.

“Ketika ulama dan umara duduk bersama dalam satu panggung kebaikan, itu adalah sinyal kuat bahwa Indonesia senantiasa dinaungi keberkahan, kedamaian, dan persatuan yang kokoh,” ujar Abuya Muhyiddin dengan penuh kehangatan.

Risalah dan dokumen rekomendasi yang disampaikan merangkum sejumlah poin strategis dari kalangan pesantren di berbagai pelosok Nusantara, antara lain:

Penguatan Pendidikan Keagamaan: Dorongan agar pesantren terus diperkuat sebagai benteng moral dan karakter bangsa.

Kesejahteraan Rakyat: Kebijakan ekonomi dan pembangunan nasional yang berpihak pada kemaslahatan masyarakat luas.

Prinsip Kemaslahatan Umum: Kepastian agar setiap regulasi serta kebijakan negara berlandaskan pada prinsip maslahat al-‘ammah.

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto yang menyimak langsung penyampaian risalah tersebut disambut hangat oleh jajaran ulama. Perpaduan antara ketegasan kepemimpinan negara dan bimbingan moral dari para ulama diyakini menjadi modal utama bangsa Indonesia dalam memperkuat kerukunan menuju negara yang maju, beradab, dan bermartabat.***

Pos terkait