Fhoto: Ilustrasi
CATATAN – Di balik letupan meriam dan deru peluru. Ada jemari yang gemetar namun tak ragu.
Bukan senapan yang mendekap di dadanya. Melainkan kertas kusam dan tinta yang setia.
Ketika malam mencekam dipeluk sunyi. Di sudut ruang remang berkawan lilin kecil,
Mereka mengetik bait-bait kebenaran yang suci. Meski nyawa menjadi taruhan di ujung bedil.
Setiap goresan tinta adalah jeritan luka. Menyuarakan jeritan rakyat yang haus merdeka.
Mereka menantang tirani dengan kata. Menembus sensor ketat, menerjang propaganda.
Tangan mereka berjelaga, napas mereka terengah. Mencetak lembaran koran di balik benteng pertahanan.
Sebab mereka tahu, kebenaran tak boleh menyerah. Suara bangsa tak boleh mati dalam kegelapan.
Gugur satu pena, tumbuh seribu cerita. Darah dan tinta bersatu menyiram bumi pertiwi.
Wahai pejuang kata di zaman penuh derita. Suaramu kini abadi, menyala di dada kami.
(Teguh Safary)