KABARPEMUDA.id — Lingkungan pondok pesantren di Jawa Barat kembali mendapat panggung untuk melahirkan talenta-talenta muda sepak bola nasional. Melalui ajang kompetisi Bintang Bola Santri se-Jawa Barat 2026, para santri diuji ketangkasannya di lapangan hijau. Turnamen ini dirancang tidak hanya untuk menyemarakkan Hari Santri Nasional, melainkan juga sebagai pijakan strategis pembinaan atlet usia muda berbasis pesantren.
Ketua Panitia Penyelenggara, Jandri Ginting, S.H., M.H., mengimbau pengelola pondok pesantren di Jawa Barat yang memiliki tim sepak bola untuk segera mempersiapkan skuad dan melengkapi proses pendaftaran.
Jandri menegaskan, tradisi dan kehidupan pesantren menyimpan potensi atletik yang melimpah. Oleh karena itu, kehadiran wadah kompetisi yang terstruktur menjadi sarana krusial untuk mengasah bakat teknis, sekaligus menanamkan karakter sportivitas, kedisiplinan, dan soliditas tim.
“Bintang Bola Santri hadir sebagai panggung nyata bagi para santri. Kami ingin membuktikan bahwa talenta dari bilik pesantren mampu bersaing secara sehat dan mencetak prestasi di arena olahraga,” ujar Jandri saat memberikan keterangan pers di Bandung.
Modal Demografis Jawa Barat
Penunjukan Jawa Barat sebagai titik awal turnamen ini didasari atas kekuatan demografis yang kokoh. Berdasarkan data panitia, Jawa Barat pada 2026 menaungi sekitar 12.977 hingga 13.005 pondok pesantren dengan basis santri mencapai kurang lebih 646.143 orang.
Menurut Jandri, besarnya modal sosial dan jumlah populasi santri tersebut membutuhkan kanalisasi positif dalam bentuk kegiatan olahraga terorganisasi. Selain menjaga stamina dan kebugaran fisik, sepak bola dipandang efektif menjadi media silaturahmi lintas daerah serta wadah pembentukan karakter.
Ia menambahkan, ajang Bintang Bola Santri diproyeksikan tidak berhenti sebagai agenda seremoni tahunan belaka, melainkan dasar fondasi bagi pembinaan sepak bola pesantren yang berkesinambungan.
“Proses pembinaan tidak boleh bersifat insidental. Harus dirancang secara terarah, terpadu, berjenjang, dan berkelanjutan agar potensi emas para pemain muda dapat berkembang secara maksimal,” tegasnya.
Target Peserta dan Regulasi Ketat
Panitia menargetkan partisipasi sekurang-kurangnya 16 tim kesebelasan pesantren se-Jawa Barat. Dengan kuota 25 pemain per tim, turnamen ini diperkirakan akan melibatkan sekitar 400 santri.
Adapun kualifikasi peserta dibatasi untuk pemain kelahiran 1 Januari 2009 hingga 31 Desember 2012. Guna menjaga keabsahan administrasi dan transparansi umur, panitia menerapkan proses verifikasi ketat melalui pemeriksaan akta kelahiran dan dokumen kependudukan resmi.
Mekanisme pendaftaran dilakukan secara digital melalui formulir dan aplikasi khusus. Setiap tim diwajibkan melengkapi album pemain yang nantinya disaring oleh tim verifikasi panitia. Peserta yang lolos verifikasi administrasi berhak mengantongi ID Card resmi pertandingan.
Fasilitas Stadion dan Beasiswa Scouting
Menunjang kelancaran kompetisi, panitia menyiapkan sejumlah arena sepak bola bereputasi di Kota Bandung, seperti Stadion Arcamanik, Stadion Sidolig, Lapangan Lodaya, hingga Lapangan Saraga ITB.
Bagi para pemenang, panitia menyediakan trofi, medali, dan dana pembinaan untuk posisi juara pertama, serta medali dan dana pembinaan untuk posisi kedua dan ketiga.
Tak hanya prestasi tim, apresiasi individu juga disiapkan secara khusus. Sebanyak 11 pemain terbaik hasil pantauan scouter berhak menerima beasiswa pendidikan sepak bola untuk jenjang karier lanjutan.
Menutup keterangannya, Jandri mengajak jajaran pimpinan pesantren, pembina olahraga, dan masyarakat luas untuk memberikan dukungan penuh. Ia berharap momentum Hari Santri Nasional 2026 melalui kompetisi Bintang Bola Santri ini mampu melahirkan bibit pesepak bola tangguh yang membawa harum nama pesantren di kancah nasional. ***





