Fhoto : Istimewa
KABARPEMUDA.id — Gejolak hebat mengguncang internal Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Sumedang. Kepemimpinan Ketua DPD PSI Sumedang, H. Dodi, menuai sorotan tajam dan kecaman keras setelah diduga mengoperasikan roda organisasi secara arogan, otoriter, serta secara sistematis menyingkirkan keringat perjuangan para kader di tingkat akar rumput.
Krisis kepercayaan ini terakumulasi dari kebijakan sepihak DPD yang diduga merombak struktur organisasi secara diam-diam tanpa ruang dialog maupun transparansi. Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di tingkat kecamatan merangsek kecewa; mereka merasa dicampakkan begitu saja setelah berdarah-darah membangun fondasi partai dari nol.
Praktik kesewenang-wenangan tersebut diduga kian telanjang ketika sejumlah pemegang Surat Keputusan (SK) Ketua DPC secara mendadak disodori draf surat pengunduran diri oleh pihak DPD tanpa mekanisme, tanpa rasionalisasi logis, dan tanpa etika organisasi.
“Kami yang berdarah-darah membangun struktur dari nol di tingkat kecamatan. Namun, setelah fondasi berdiri, kami justru dibuang begitu saja tanpa penghargaan apalagi komunikasi yang wajar,” tegas salah satu pengurus DPC dengan nada masam.
Sorotan destruktif ini tak hanya memantik api di tingkat kecamatan, tetapi juga di internal DPD sendiri. Sumber internal yang masih aktif di jajaran kepengurusan DPD turut menyayangkan gaya kepemimpinan H. Dodi yang diduga bekerja “asal jalan” dan sewenang-wenang. Pola manajerial defensif dan diduga minim etika politik ini dianggap telah mencederai marwah serta tata kelola partai yang seharusnya berlandaskan asas keadilan, transparansi, dan profesionalisme.
Diduga Empat Belas Kecamatan Lumpuh, Konsolidasi Perlawanan Menguat
Dampak dari manuver politik DPD ini berujung fatal terhadap daya hidup partai. Dari total 26 kecamatan yang telah terbentuk, sebanyak 14 DPC di antaranya jajaran pengurus DPC PSI Kecamatan Tomo dan DPC PSI Kecamatan Cisitu secara tegas melayangkan sikap mundur massal. Langkah radikal ini diambil sebagai bentuk perlawanan terbuka atas kepemimpinan H. Dodi yang diduga cacat kualifikasi sebagai nahkoda partai politik.
Ketua DPC PSI Kecamatan Tomo dan Ketua DPC PSI Kecamatan Cisitu mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kekacauan tata kelola ini. Menurut mereka, dalam ruang dinamika partai politik, perbedaan gagasan seharusnya menjadi bahan bakar untuk memperbesar basis partai, bukan justru diduga memberangus kepengurusan awal secara tak beretika.
“Kumaha rek gede na… Keur mah PSI teh hese di Sumedang mah, kalah dikieu-kieu. Nya kumaha arek gede na ieu partai,” ujar pimpinan DPC tersebut menumpahkan kekecewaannya mempertanyakan bagaimana partai anak muda ini bisa berkembang jika potensi akar rumput diduga terus diacak-acak oleh pimpinannya sendiri.
Menanggapi krisis kepemimpinan yang melumpuhkan struktur ini, konsolidasi lintas DPC bergerak cepat. Para pimpinan DPC yang terdampak kini menyusun langkah formal untuk melayangkan surat keberatan resmi. Mereka mendesak Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Jawa Barat dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI untuk segera turun tangan melakukan evaluasi total serta mencopot H. Dodi dari tampuk kepemimpinan DPD PSI Sumedang sebelum basis massa partai sepenuhnya lebur.
DPD Membisu
Sementara itu, upaya konfirmasi dan klarifikasi yang dilayangkan kepada Ketua DPD PSI Sumedang, H. Dodi, melalui pesan singkat aplikasi WhatsApp tidak membuahkan hasil. Hingga berita ini ditayangkan, yang bersangkutan belum atau tidak memberikan tanggapan sedikit pun terkait gelombang pengunduran diri serta dugaan kepemimpinan otoriter yang dialamatkan kepadanya.***





