Oleh: Teguh Safari
Kehadiran 2 proyek raksasa yaitu Tol Cisumdawu dan Bendungan Cipanas, ditambah rencana proyek Geothermal Tampomas telah menempatkan Kecamatan Conggeang, kabupaten Sumedang Jawabarat ini pada titik balik sejarahnya.
Di satu sisi, pembangunan proyek besar ini adalah “karpet merah” bagi kemajuan nasional; di sisi lain, ia menyimpan kekhawatiran akan hilangnya jati diri lokal.
Namun, jika dikelola dengan pendekatan yang humanis dan inovatif, Conggeang berpeluang besar bertransformasi menjadi Pusat Pariwisata Terpadu yang tidak hanya menjual pemandangan, tapi juga keberlanjutan.
Dua Sisi Koin Pembangunan
Secara infrastruktur, aksesibilitas Conggeang kini tidak tertandingi berkat Tol Cisumdawu yang memangkas waktu tempuh dari pusat kota besar secara drastis.
Bendungan Cipanas, yang baru saja diresmikan pada Juli 2024, tidak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir dan sumber air baku, tetapi secara resmi diproyeksikan pemerintah sebagai kawasan wisata baru yang mampu mendongkrak ekonomi warga sekitar.
Namun, pembangunan fisik ini harus dibayar dengan perubahan bentang alam.
Kekhawatiran warga terhadap rencana Geothermal Tampomas khususnya terkait stabilitas sumber air adalah alarm nyata yang harus dijawab pemerintah dengan transparansi ilmiah dan mitigasi lingkungan yang ketat.
Strategi Konstruktif Menuju Pusat Pariwisata
Untuk menjadikan Conggeang sebagai destinasi wisata unggulan tanpa mengorbankan kesejahteraan rakyat, diperlukan langkah-langkah kolaboratif.
Pemerintah harus berani memadukan infrastruktur modern dengan kearifan lokal.
Bendungan Cipanas dapat dikembangkan menjadi pusat sport tourism (seperti dayung atau jet ski) sementara Geothermal dapat dikemas sebagai Geotourism pendidikan energi terbarukan meniru keberhasilan wisata kawah di wilayah lain.
Pemberdayaan Warga lokal
Pemerintah perlu mendorong pembentukan Desa Wisata (DeWi). Pelatihan manajemen homestay dan sertifikasi kuliner lokal harus menjadi prioritas agar “ganti untung” lahan tidak habis untuk gaya hidup konsumtif, melainkan modal usaha berkelanjutan.
Perlindungan Zona Ekologis
Wisata Conggeang bergantung pada keasrian Gunung Tampomas. Pemerintah harus menjamin bahwa eksploitasi panas bumi tidak menyentuh zona tangkapan air dan mata air seperti Sirah Cipelang yang menjadi nyawa bagi pariwisata berbasis alam yang sudah ada.
Transparansi dan Keadilan Hukum
Kasus-kasus sengketa lahan atau indikasi penyimpangan dalam pengadaan tanah bendungan harus diselesaikan secara tuntas dan adil.
Pariwisata yang sehat hanya bisa tumbuh di atas pondasi sosial yang damai dan tanpa rasa tidak puas dari masyarakat lokal.
Conggeang tidak harus memilih antara menjadi “beton industri” atau “desa tertinggal”.
Dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan warga, infrastruktur raksasa ini bisa menjadi pengungkit bagi industri pariwisata yang mandiri.
Kuncinya ada pada martabat pembangunan yang menempatkan manusia dan alam sebagai subjek, bukan sekadar objek dari angka-angka pertumbuhan ekonomi.***
Penulis: Jurnalis Grup KAPOL.id





