KABARPEMUDA.id — Kabar duka mendalam menyelimuti panggung hiburan Tanah Air. Maestro komedi dan aktor veteran Indonesia, Zainal Abidin Zetta yang terpatri kuat dalam ingatan publik melalui nama panggung Diding Boneng resmi menutup usia pada Senin, 3 Agustus 2026, pukul 06.04 WIB di usia 76 tahun.
Kepergian sosok legendaris ini menandai redupnya salah satu lampu sorot paling cerah dalam sejarah komedi Indonesia. Sang aktor mengembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan komplikasi penyakit yang diidapnya, meliputi stroke, asma, serta hipertensi. Almarhum dimakamkan pada hari yang sama setelah salat Ashar di Taman Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo, Jakarta Pusat, sebagai tempat peraduan terakhirnya.
Melangkah jauh ke masa keemasannya di era 1980-an hingga 1990-an, nama Diding Boneng adalah jaminan gelak tawa di seluruh bioskop Nusantara. Kehadirannya di layar lebar selalu menjadi elemen penting yang melengkapi dinamika trio komedi terbesar sepanjang sejarah Indonesia: Warkop DKI (Dono, Kasino, dan Indro).
Boneng bukan sekadar pemeran pendukung; ia adalah “senjata rahasia” yang sanggup mencuri perhatian di tiap kemunculannya. Dengan karakter suara yang khas, tatapan mata yang tajam namun penuh humor, serta perawakan dan gestur eksentrik, Boneng berhasil menciptakan deretan karakter antagonis konyol hingga petugas keamanan (hansip/satpam) yang serba keliru tetapi amat ikonis.
Jejak langkah kejayaannya terpahat abadi dalam serial film bioskop Warkop DKI yang paling legendaris pada masanya:
Godain Kita Dong (1989): Penampilan karismatiknya yang mampu mengimbangi dinamika absurd Dono, Kasino, dan Indro.
Bisa Naik Bisa Turun (1991). Peran fenomenalnya sebagai satpam dengan instruksi-instruksi tegas namun konyol yang menjadi salah satu ad-lib dan adegan paling diingat sepanjang masa.
Masuk Kena Keluar Kena (1992): Menunjukkan kematangan akting komikal lewat karakter eksentrik yang selalu berhasil memicu gelak tawa penonton.
Bagi-Bagi Dong (1993): Kelincahan dan ketepatan waktunya (timing) dalam melontarkan komedi fisik yang menyempurnakan alur cerita.
Pencuri Cinta / Lupa Aturan Main (1994): Bukti konsistensinya dalam menjaga ritme komedi slapstick kelas atas bersama Warkop.
Perjalanan panjang Diding Boneng di dunia seni bukan sekadar babak kejayaan di depan kamera bioskop. Jauh sebelum dan sesudah era emas Warkop DKI, dedikasinya yang mendalam terhadap dunia seni peran teruji di panggung teater. Cinta besarnya pada seni akting terus dibagikan hingga akhir hayatnya melalui aktivitas mengajar generasi muda di Sanggar Perkasa.
Kini, sosok pengocok perut yang legendaris itu telah berpulang. Meski langkah fisiknya telah terhenti, warna suara, tawa, dan memori tentang karakter-karakter konyol yang diciptakannya pada masa keemasan film Indonesia akan terus hidup dan terpatri abadi dalam sejarah perkomedian Tanah Air. Selamat jalan, Maestro.***





