Oleh: Teguh Safary
CATATAN – Panggung politik Musyawarah Daerah (Musda) ke-XI DPD Partai Golkar Kabupaten Sumedang tengah menayangkan pertunjukan krusial. Karpet merah kian terbentang lebar memandu langkah Hj. Yuslita Sumartini Bilqis, sosok hangat yang akrab disapa Bunda Bilqis, menuju kursi kepemimpinan tertinggi. Derasnya arus dukungan yang mengalir, khususnya dari Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), bukan sekadar riak dinamika internal biasa, melainkan simpul dari pergeseran strategis yang bakal menentukan arah dan takdir Beringin Sumedang ke depan.
Popularitas Bunda Bilqis tidak tumbuh secara instan dalam ruang hampa, melainkan berakar kuat dari rekam jejak sosial yang panjang. Kehadirannya yang konsisten dalam ruang-ruang kemasyarakatan, seperti pendampingan pengajian Al-Hidayah di Gedung Islamic Center Sumedang, menjadikannya figur yang tidak berjarak dengan rakyat. Kehangatan interaksi ini melahirkan kepercayaan organik (organic trust), di mana kepemimpinan tidak lagi dipandang sebagai hierarki kekuasaan yang kaku, melainkan sebagai bentuk pengabdian yang tulus.
Kekuatan Bunda Bilqis kian kokoh tatkala 14 Pengurus Kecamatan (PK) yang menghimpunkan diri dalam wadah “PK Akur” secara tegas dan terbuka menancapkan panji dukungannya. Sikap dari 14 PK ini adalah potret nyata dari penguasaan teritorial politik yang matang. Di tingkat akar rumput, pengurus kecamatan adalah benteng pertahanan sekaligus ujung tombak penggalangan suara. Ketika mayoritas PK telah merapatkan barisan, peta persaingan praktis mengunci ruang gerak kompetitor lain dan mengubah konstelasi pemilihan menjadi sekadar formalitas konsolidasi.
Dukungan tanpa ragu dari organisasi sayap pemuda seperti AMPG dan AMPI turut menandai lahirnya episode baru regenerasi politik di Sumedang. Pemuda tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai pemandu sorak, melainkan bertindak sebagai mesin penggerak utama yang presisi. Kolaborasi erat antara kepemimpinan berkarakter pengayom dan energi dinamis pemuda memoles citra partai agar semakin relevan, adaptif, serta berdaya pikat tinggi di mata pemilih muda (swing voters). Bila dikalkulasikan bersama, amunisi suara di genggaman Bunda Bilqis diperkirakan telah melompati ambang psikologis 50 persen.
Di balik kalkulasi angka yang kian mengunci kemenangan, cara artikulasi politik yang dibangun tergolong sangat cerdik. Ketimbang memamerkan gertakan atau dominasi maskulin, gaya kepemimpinan yang ditawarkan dibungkus rapi dalam narasi “pengayom” dan “sentuhan keibuan”. Di tengah gempuran pragmatisme dan kalkulasi transaksional yang kerap mewarnai kontestasi daerah, hadirnya narasi kepemimpinan berbasis kekeluargaan menjadi oase sekaligus strategi penawar yang taktis.
Di tengah potensi polarisasi internal yang acap kali membayangi agenda musyawarah daerah, sosok Bunda Bilqis hadir sebagai penyeimbang yang membawa efek pemersatu. Gaya komunikasinya yang terbuka dan mengedepankan pendekatan berbasis nurani dinilai mampu meredakan ketegangan faksi, merangkul pihak-pihak yang berbeda pandangan, serta menyatukan kembali potensi terbaik partai ke dalam satu barisan yang solid.
Langkah Bunda Bilqis untuk melanjutkan “mozaik program yang belum tuntas” dari era kepemimpinan sebelumnya juga menegaskan sinyal politik kontinuitas. Suksesi kali ini bukan bertujuan merombak tatanan secara radikal, melainkan merawat status quo yang dikemas ulang agar lebih relevan dan berdaya pikat. Penyelesaian mozaik program tersebut dipandang sebagai komitmen moral untuk menghadirkan kerja-kerja politik yang lebih terukur, bernilai tambah, dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
Restu politik berupa diskresi dari Ketua Umum DPP Partai Golkar kian mengukuhkan posisi Bunda Bilqis di atas angin. Legitimasi pusat ini seolah menjadi fondasi kokoh yang sulit digoyahkan oleh kompetitor manapun. Namun, ujian terberat dari sebuah kemenangan bukanlah saat meraih kursi kekuasaan, melainkan bagaimana mengelolanya pasca-musyawarah.
Janji kepemimpinan yang inklusif akan betul-betul diuji saat Bunda Bilqis harus mengakomodasi beragam kepentingan faksi di dalam partai. Menjaga pohon Beringin tetap rindang bagi semua pihak tanpa ada faksi yang merasa ditinggalkan adalah pembuktian sejati dari kematangan nurani keibuan dalam merajut soliditas Partai Golkar Sumedang menuju era baru yang lebih hangat dan berkemajuan.***





